Ayahku Petani Sejati

Hamparan sawah menguning sudah berminggu-minggu, tapi masih saja petani-petani memanen padinya, terus memanen tanpa habis-habis.
Aku tidak merasa bahwa ayahku mempunyai sawah yang luas layaknya juragan H. Patuh. Tapi tetap saja ayah memanen, dan tak jarang menjemur hamparan padi di pelataran rumahku. Kata Ibu, ayah cuma bekerja sebagai buruh tani, dan beras yang menghiasi pelataran rumah, pada setiap masa panen itu, berasnya juragan H. Patuh. Ayahku akan mendapat seperempat dari keseluruhan padi hasil panennya.

Di Perkampungan ini rata-rata warganya berpenghasilan dari sawah dan kebun. Mereka yang mempunyai banyak kebun, dan berhektar sawah bisa menanaminya dengan berbagai tanaman, seperti padi, tembakau, lombok, pohon pisang, sayur-sayuran, sengon, mahoni, dan yang masih banyak bertengger di kebun-kebun pohon sawo kecik dan pohon So, kalau orang sini mengatakannya dengan pohon melinjo. Warga yang tidak mempunyai tanah, akan menjadi buruh tani. Kalau menjadi buruh tani juga tidak bisa mencukupi, maka kebanyakan warga, khususnya anak-anak muda sudah mulai merantau untuk cari maisyah.

Perkampungan yang asri, anganku selalu mengatakan demikian. Iya…aku yakin seyakin-yakinnya, hanya di kampung ini kesejatian keasrian bersemayam. Anda tidak akan menemukan wajah muram saat anda bertemu dengan warga kampong desa ini. Wajah warga selalu dihiasi senyum, walau hati kadang saling mengingkari, dan saling menyuburkan penyakit hati.

Aku terus saja berkeliweran di antara padi yang dihamparkan di halaman rumahku. Seperti biasanya, Pohon sawo besar yang berada tepat di depan rumahku, setiap musim panen dijadikan markas burung emprit, dan sebangsanya. Mereka mengintai kuningnya padi yang cocok buat menyambung hidup anak cucu mereka. Saat matahari mulai menampakkan panasnya, Bapak segera memberi komando kepadaku untuk menjemur dan menjaga padi-padi itu supaya selamat dari sentuhan burung-burung pencari rizqi.

Ibuku tidak setuju dengan prinsip ayahku, agar aku selalu menjaga padi-padi itu. Ibu selalu membisikiku,

“jangan mau, toh burung-burung itu minta jatah padi hanya seberapa biji tiap hari, burung tidak punya kulkas, apalagi almari untuk menyimpan makanan, layaknya manusia. Dia makan hanya untuk hari ini. Entah esok, entah lusa, tak pernah ia hiraukan.” Dengan suara lembut dan agak ditahan agar tidak kelepasan. Agaknya ibu takut suaranya di dengar ayah di ruang depan.

Seringkali Ibu tidak setuju dengan keputusan-keputusan ayahku. Biasanya kalau tidak setuju, perlahan dia membisikiku, dan tak terasa mendadak Ibu curhat tentang berbagai hal. Tentang pembagian hasil beras yang tidak adil, tentang beberapa petani yang bekerja bersama ayah. Membicarkan tentang nasib mereka yang selalu pas-pasan.

“Sekarang jelang ujian dan tahun ajaran baru, pasti mereka membutuhkan banyak uang untuk keperluan pendidikan anak-anak mereka,” desah Ibu dengan nafas panjang, seakan dia menanggung dan ikut merasakan apa yang dialami para petani. Bagi ibu, petani-petani yang sejati itu petani yang bekerja untuk beribadah kepada Allah. Mereka yang senyatanya ikut membantu kaya para juragan, tetapi ketika masa-masa sekarang ini jarang kebutuhan-kebutuhan mereka ditulungi juragan.

“biarlah itu burung-burung memakan padinya H. Patuh, biar nanti ketika penimbangan amal kelak di akherat, beban amal sholihnya Haji Patuh tambah,” demikian suara ibu selalu mengulang-ulang kalimat itu. Entah kenapa Ibu selalu gregetan dengan Haji Patuh. Menurut Ibu, walaupun Haji Patuh orang terkaya di desa ini tapi dia pelitnya masya Allah gak ketulungan. Pernah ada petani yang ingin minta upahnya dulu sebelum mereka mengerjakan sawah Juragan, karena kebutuhan pembiayaan anaknya yang sakit, “coba bayangkan….dia tidak dikasih…” kata Ibu lagi. Melihat nasib teman ayahnya seperti itu, Ibu bermaksud menolong dia dengan meminjamkan beberapa uang simpanannya tetapi Bapakku memarahi tanpa alasan. “agaknya ayahmu cemburu…” cerita Ibu menutup perbicangan kita di dapur. Suara dehem ayah membuat Ibu tidak melanjutkan suara hatinya yang masih banyak belum diungkapkan kepadaku.

Aku sekarang mulai berfikir, kenapa ya seringkali ibu takut kepada Ayah dalam hal-hal tertentu. Padahal kalau saya pikir Ibu adalah istri ayah, dan ayah suami Ibu, kenapa Ibu selalu takut mengatakan bahasa hatinya tentang berbagai hal. Untuk apa sebenarnya mereka dulu bertunangan dan menikah, kalau bukan untuk saling percaya, melindungi dan menyayangi, tetapi nyatanya setelah mereka bersatu justru Ibu selalu takut sama ayah. Ayah kadang marah-marah sama ibu dan anak-anaknya. Apakah ini yang berarti keluarga yang tidak sakinah, mawadah, warahmah, seperti dikatakan Pak Kiai itu. Atau sudah sewajarnya manusia berhak memarahi dan marah, sebagai tirakat untuk hidup lebih hidup. Begitulah yang mulai saya pikirkan, saat ibu mengakhiri ungkapan hatinya. Aku terus berfikir tentang arti berkeluarga.

“Sesunggunya apa yang dituju setiap orang yang berkeluarga,” tanyaku pada diri sendiri berulang-ulang dalam hati. Bagaimanapun aku sudah mulai baligh. Usiaku sekarang sudah menginjak lima belasan tahun. Aku mulai berfikir tentang urusan-urusan orang dewasa. Tentang keluarga, tentang hubungan antar tetangga, tentang hubungan antar manusia.

“Disuruh jaga padi, kok malah ngalamun…” tiba-tiba sapaan ayah membuyarkan lamunanku. “itu….burungnya pada jarah padi, zzzzuuuuuh,” sambil melempar segenggam padi untuk membuyarkan burung-burung emprit.

Aku bangga punya Ayah petani. Wajahnya tirus, matanya cekung, tanda dia suka rialat, kulitnya hitam legam bekas dibakar matahari. Urat-urat mengelilingi sekitar tubuhnya, terutama yang kelihatan menojol pada bagian-bagian lengan dan kaki. Sehari-hari ia tak beralas kaki, pun walau sekedar sandal jepit. Sesekali aku tanya perihal itu, dia selalu jawab: biar kita menyatu dengan tanah, karena kita berasal dari tanah, akan dikembalikan ke tanah, maka harus selalu menyatu dengan tanah.

Khas layaknya petani tulen, selalu terselip sabit di samping celananya, caping meneduhinya dari terpaan panasnya mentari. Sungguh manusia sejati, yang rela membakarkan tubuhnya untuk sesuap nasi, dan mengabdikan diri pada Ilahi. Segenap raga bergelut dengan Lumpur, sampai hujan mengguyur, Ayah tetap memaknainya dengan rasa syukur, bahwa hujan selalu membawa berkah yang akan menghidupkan tanah, sehingga berkecambah tumbuhan-tumbuhan yang siap menjadi rahmat bagi manusia sejagat.

“Bapak pergi ke sawah dulu ya Ji….”

“Iya….iya pak hati-hati….”

“jangan lupa, habis jaga padi, kolah diisi.”

Bergegas ayah berjalan enteng menuju persawahan. Hari-harinya dihabiskan untuk mengurus sawah, apalagi pada masa panen seperti sekarang ini. Bisa sampai larut sore Bapak di sawah. Biasanya barisan orang-orang dari dataran tinggi turun untuk ikut membantu memanen padi-padi yang sudah menguning.

Tapi mendadak aku jadi kepikiran kalau terus dipanggil Ji, oleh ayah. Hanya ayah yang memanggilku Ji, ibu memanggilku tole, tapi biasanya hanya dua huruf belakang yang disebut waktu memanggilku, “Leeeeee”. Aku akan menyahutinya dengan suara kencang juga, “dalem Maaaaak,.”

Beda lagi dengan teman-temanku yang memanggilku dengan panggilan Joyo. Maksudnya bukan laksana panggilannya mahapatih, seperti Joyoboyo. Tetapi panggilan itu mulai aku sandang, saat saya dan teman-teman jalan-jalan ke jalan besar di ujung utara kecamatan ini untuk sekedar menghitung dan menyaksikan bis-bis yang berseliweran. Aku selalu mengandalkan bis yang bernama Sinarjaya. Karena bis itu yang sering diceritakan Pak Lekku. Maklum dia orang perantau yang sering naik bis. Teman-teman jadi suka meledek, “mentang-mentang namanya ada Yo nya, terus bis andalannya Sinar Joyo….” Ledek teman-temanku. Aku hanya tersenyum dan balas meledek.

Mulai hari ini aku jadi tidak nyaman, saat tadi ayahku memanggilku dengan julukan Ji. Nama ini lumayan prestise di kampong halaman ku. Karena yang dipanggil Ji biasanya mereka yang sering pakai ketu kaji. Dia sudah pernah menginjakkan kaki di tanah Makkah. Berziarah dan menjalankan perintah agama yang merupakan bagian rukun Islam yang kelima. Padahal Ji untuk namaku adalah petikan dua huruf dari nama lengkapku Ngajiyo: yang berarti belajarlah. Dan terus belajar sampai mati. Jadilah murid terus-menerus, toh walau engkau oleh masyarakat dianggap guru. Karena murid berarti orang yang menghendaki ilmu.

“Kalau engkau menganggap dirimu selalu sebagai murid, maka diamanapun tempat, kepada siapapun engkau tak akan malu untuk bertanya. Toh dihadapan muridmupun, kamu tidak akan segan untuk bertanya, ojo isin sabab tekaburan.” Itulah ungkapan guruku, waktu pengajian di masjid pada pagi hari.

Ayah-Ibuku menamaiku dengan nama yang njawani Ngajiyo, dengan harapan aku supaya selalu belajar dari buaian sampai ke liang lahat. Maka tak heran saat aku menginjak usia yang ke 15 ini, selepas aku menyelesaikan SMP nanti, rencana aku akan di godok di kawah condrodimuko pondok pesantren di salah satu kota petani juga, kalau tak salah di Kabupaten Pati.

Bapak, Ibuku menghendaki aku mondok, daripada sekolah, karena sudah menjadi kacamata berfikir orang-orang di kampungku bahwa yang harus diutamakan dalam hidup itu adalah agama, karena pengetahuan agama yang akan menemani, dan nguyahi kita dalam menjalani hidup yang sebentar ini. Seperti ungkapan orang-orang yang maklum dalam pendengaran kita: “ilmu-ilmu umum tidak akan ditanyakan oleh malaikat munkar dan nangkir di kubur,”

Aku tergolong sebagai anak penurut, dengan keinginan-keinginan orang tua. toh walaupun jiwaku selalu membrontak dengan keinginan-keinginannya. Sebenarnya aku lebih minat untuk menekuni dunia elektronik, karena semenjak SD kelas enam, aku suka mengotak-atik barang elektronik, ketimbang menjelehkan mata di depan buku-buku agama. Aku juga senang menggambar apa saja yang berada di depan mataku. Agama bagiku sudah cukup saya pelajari di mushola-mushola yang setiap hari tak kekuarangan pengajian, dari sorogan sampai bandongan. Di kampungku sendiri juga ada Pesantren, yang pengajian-pengajiannya bisa diikuti oleh orang-orang kampung.

Tapi tetap saja ayah menghendaki aku mondok. Dan keinginan ayah sama halnya keinginanku sendiri yang harus aku jalani. Aku terlalu sering mengutarakan keinginanku, tetapi hanya dampratan yang kudapat, “kamu pingin selamat dunia akherat tidak? Kalau ingin selamat, ikuti saja kata-kata Bapak mu.” Sepertinya Bapak tahu jalan menuju keselamatan dunia akherat. Aku hanya terdiam membisu, kalau bapak sudah mengudarakan kata-katanya. Apalagi Ibu mendukung dengan ungkapan-ungkapan yang menyentuh perasaan, “Iya nanti siapa Lee….yang bisa mendoakan Ibu, kalau Ibu sudah sumare di kubur nanti, kalau kamu gak mau mondok.” Aku tertunduk, dan semakin tertunduk, kalau ibu sudah menasehatiku. Memang keinginanku harus ku pendam, cita-citaku harus ku ingkari sementara, untuk menjalankan perintah kedua orang yang selalu ku sayangi ini.

Hari ini hari Rabu, aku mulai deg-degan. Sebentar lagi aku akan meninggalkan kampungku beberapa tahun. Waktu yang tidak lama dan tidak pendek. Kalau aku nanti di Pesantren bisa betah dan dapat menjalani aktivitas dengan keikhlasan dan kegembiraan, maka waktu beberapa tahun, laksana hanya beberapa bulan. Bisa menghabiskannya dengan tanpa beban. Tapi seandainya semua yang ada di sana bertentangan dengan hatiku. Mungkin hari-hariku di sana penuh dengan kelesuan, dan penantian yang panjang. Hari-hari yang penuh siksaan batin. “ya….udah lumrah, pertama mondok itu tidak langsung kerasan. Perlu berkenalan dan penyesuaian dengan lingkungan sekitar.” Nasehat Pak De Jirin kepadaku. Tak lupa aku minta doanya, dan minta selalu didoakan agar bisa memperoleh ilmu yang bermanfaat dunia akherat. Sebelum aku berpamitan ia tiba-tiba saja merogoh sak jasnya yang kelihatan lusuh. Beliau mengeluarkan beberapa lembaran uang, “ini untuk beli permen,” katanya kepadaku. Aku hanya tersipu…dan aku bilang, “matur nuwun Pak De,”

Dilman sudah menunggu di depan rumah, agaknya sudah disewa Bapak untuk mengantarkan aku ke jalan gede. Tas kopor Bapak satu-satunya kulihat terselip diantara jok dilman. Bapak tidak seperti biasanya memegang sabit dan berselandok sarung, sekarang sudah necis, celana pantaloon membungkus kakinya yang biasanya telanjang. Ayah sekarang memakai alas kaki, seumur-umur aku baru menyaksikan Bapak berbeda sama sekali dengan hari-hari biasanya. Ibu hanya tersenyum-senyum melihat ayat terlihat rapih. Bajunya kelihatan pinggirannya lancip, tanda baju itu telah disetrika walau pecinya tampak menguning layaknya padi-padi yang biasa ia panen. Terpaan sinar matahari memperjelas warna tembaga peci yang tadinya hitam. Entah sudah berapa tahun peci itu tidak diganti.

Bersambung ……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: