Keajaiban Al Qur’an


Banyak sejarah mencatat para Ilmuwan, Intertaint, Tokoh dan lainnya akhirnya memeluk agama Islam. spiritual mereka dipaparkan dalam Buku berjudul ‘Mereka yang Kembali’ mengungkapkan sisi lain dari sosok sejumlah tokoh, yang kebanyakan berasal dari kultur Eropa. Selama ini masyarakat Barat mempunyai stigma bahwa Islam adalah agama barbar dan puritan. Islam di persepsikan sebagai agama yang hanya mengajarkan kekerasan dan anti modernitas. Persepsi yang tak lepas dari beban sejarah yang memang masih membelenggu masyarakat Barat sebagai imbas dari Perang Salib.
Beberapa diantaranya misalnya, Malcolm X (pemimpin kaum kulit hitam Amerika), Cat Stevens (penyanyi tersohor dari Inggris), Kristiane Backer (VJ MTV dari Inggris), Leopold Weiss (wartawan andal asal Swiss), Jacques Cousteau (ilmuwan dari Prancis).

Mengapa mereka masuk Islam? Ada bermacam sebab. Ada yang karena penelitiannya, ada yang memandang Islam dari segi hak asasi manusia, adapula yang melihat kecocokan dalam ide dan pemikiran. Masing-masing punya gairah dan catatan tersendiri. Rasionalisasi yang mereka dapatkan dari ajaran Islam membulatkan tekad mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Jalan terjal dan berliku dalam menemukan Islam menjadi hikmah yang bisa diteladani.

Pencarian mereka akan kebenaran hakiki menarik disimak. Pakar kelautan Jacques Costeau, misalnya. Suatu saat ia melakukan penelitian di Samudera Atlantik. Ketika Samudera Atlantik bertemu dengan Laut Tengah, muncullah rasa kagum pada ilmuwan yang terkenal lewat film ‘The Living Sea’ ini. Air dari kedua lautan itu ternyata tidak bercampur. Penasaran, Costeau pun menyelidiki, mencari penyebabnya. Seharusnya, massa air dari kedua lautan itu bercampur karena sama-sama mengandung garam. Tapi nyatanya tidak, bahkan masing-masing mempunyai sifat dan kandungan yang berbeda. Pikirannya buntu karena tidak mendapatkan jawaban.

SURAH ARRAHMAN
Suatu hari ia menanyakan fenomena tersebut kepada Dr. Maurice Bucaille. Dengan senang, pakar Islam itu menjawab bahwa AlQuran telah menyebutkannya dalam surah ArRahman ayat 19-20, “Dia membiarkan dua lautan mengalir dan keduanya bertemu. Diantara keduanya seolah ada batas yang tidak bisa dilampaui masing-masing”. Mendapat jawaban ini, Costeau pun masuk Islam.

Lain halnya dengan Cat Stevens. Penyanyi pop era 1970-an ini masuk Islam karena membaca AlQuran. Suatu hari ia mendapat AlQuran dari salah seorang saudaranya. Cat Stevens yang penasaran dan ingin tahu lalu membacanya. Ketika itulah ia menemukan kebenaran dan kedamaian, dan tak lama kemudian iapun memeluk Islam, kemudian berganti nama menjadi Yusuf Islam. Bahkan kini ia menjadi salah seorang pemimpin bagi kaum muslimin di Inggris.

Walhasil, banyaknya tokoh dari masyarakat Barat yang menjadi muslim semata-mata lantaran pencarian mereka akan kebenaran sejati. Mereka mencari aspek spiritualisme dari Islam, bukan Islam sebagai agama atau doktrin. Apalagi, sudah lama masyarakat Barat jenuh terhadap ‘doktrin’ masyarakat modern yang cenderung kurang manusiawi.

Bisa dimaklum jika kini perkembangan Islam di Barat cukup signifikan. Bahkan setelah Tragedi 11 September yang meruntuhkan menara kembar World Trade Centre di New York, Islam justru tampil sebagai primadona dalam berbagai diskusi. Dan belakangan, warga Barat pun berbondong-bondong memeluk Islam. Tak salah apa yang pernah ditulis oleh sejarawan terkemuka Arnold Toynbee dalam bukunya Civilization of Trial, “Peradaban kosmopolit Barat modern saat ini di dominasi oleh dua unsur, kesadaran ras dan alkohol. Dalam memerangi dua unsur itu tampaknya roh Islam berpeluang membuktikan keampuhannya. Bahkan jika diterima, Islam akan menjadi ukuran moral dan nilai sosial yang tinggi”.

Berikut Kisah dan Paparan dari Mu’allaf lainnya :

Dan sebuah kisah juga terjadi pada seorang ilmuwan asal amerika ,,,
” Ketika lafad Allah terdengar, getaran di atas suara berubah menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditangkap oleh monitor. Mukjizat ini membuat seorang ilmuwan terkenal Amerika memilih masuk Islam.

Dilaporkan bahawa sebuah team ilmuwan dari Amerika menemukan bahawa sebagian dari tumbuh-tumbuhan khatulistiwa mengeluarkan frekuensi di atas suara. Dan itu hanya dapat ditangkap oleh perangkat canggih.

Para ilmuwan ini selama tiga tahun melakukan penelitian dan melihat fenomena seperti ini membuat mereka sangat terheran-heran. Mereka menemukan bahwa getaran di atas suara ini dapat diubah menjadi gelombang elektrik optik dan lebih dari seratus kali persekon berulang-ulang.

Team ini kemudian membuktikan penemuan mereka di hadapan sebuah team peneliti Inggeris. Kebetulan dalam team itu ada seorang yang beragama Islam. Ia keturunan India.

Setelah melakukan uji coba selama lima hari, ilmuwan Inggeris juga menjadi terkagum-kagum dengan apa yang mereka lihat. Namun, ilmuwan muslim ini mengatakan bahwa hal ini sudah diyakini oleh kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Mereka yang mendengar ucapan itu memintanya untuk lebih jauh menjelaskan masalah yang disebutnya. Ia kemudian membaca ayat yang berbunyi: “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (Isra’: 44).

Prof. William Brown, pimpinan team peneliti itu akhirnya mengajak ilmuwan Islam itu untuk berbicara lebih banyak tentang Islam. Setelah dijelaskan tentang Islam dan diberi hadiah sebuah Al-Quran yang dilengkapi dengan tafsirnya dalam bahasa Inggeris, ia kemudian mengucapkan syahadat.
“petikan infosyiah”

1. Ahmad Ichsan (Liem Tjoei San) : Islam Bukan Sekedar Percaya

Katolik memang menjadi agama resmi pilihan keluarga kami. Papa saya, Liem King Seng, beserta Mama Among selalu mengajak kami, anak-anaknya pergi ke gereja, karena di sanalah keluarga kami tercatat sebagai jemaat. Meskipun begitu, papa bukan termasuk orang tua yang suka memaksakan kehendak, termasuk dalam masalah agama. Menurutnya, yang penting ia sudah mengajari agama Katolik. Seandainya anak-anaknya mempunyai pilihan lain, itu urusan mereka sendiri.

Nama saya Liem Tjoei San, lahir tanggal 2 Juni 1962 di Jakarta. Kebetulan saya anak ketiga dari 12 bersaudara. Sejak lahir, tentu ajaran Katolik yang paling saya tahu dan sering saya jalani. Setiap hari saya menerima dogma-dogma Katolik dan setiap hari pula saya melakukan kegiatan yang bernapaskan Katolik. Pendidikan dasar yang saya lalui di SD peninggalan Belanda yang dikelola sebuah yayasan Kristen.

Masa-masa kecil memang masih berjalan di atas rel (baca: wajar) dan belum begitu memahami pentingnya agama. Apalagi mempertentangkannya. Sehingga, setamat SD papa tak begitu risau ketika saya memilih masuk SMP Islam Wijaya Kusumo Jakarta, meskipun berbeda keyakinan dengan keluarga kami.

Padahal, di samping rumah saya juga ada SMP Katolik, tapi saya tidak tertarik. Selama tiga tahun saya mempelajari Islam. Bukan waktu yang singkat untuk sekadar mengerti agama. Namun begitu, hati saya belum terbuka. Waktu itu agama Islam hanya sekadar untuk pengetahuan belaka.

Setamat SMP saya masuk ke SMA Negeri 2 Jakarta Barat. Seperti di SMP, di sini pun saya menganggap agama bukan sesuatu yang prinsipil. Setiap kali mengisi data pribadi, termasuk memilih pelajaran agama, saya malah tidak mencantumkan agama Katolik atau Islam. Tapi justru saya tulis Budha. Akhirnya pelajaran agama yang saya ikuti dari sekolah juga pelajaran agama Budha.

Di sini pun saya belum tertarik pada ajaran Budha. Entahlah.Waktu itu saya masih menekuni agama Katolik. Seperti biasanya tiap Minggu bersama papa dan keluarga saya ikut kebaktian di gereja.

Setamat SMA saya melanjutkan pendidikan ke Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung. Saya mengambil jurusan Teknik Sipil. Belum genap satu tahun, saya pindah kuliah ke Universitas Tarumanegara Jakarta, sekaligus mengambil dua jurusan: Teknik Sipil dan Hukum. Di sini saya juga hanya sebentar. Kemudian saya pindah lagi ke Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag), juga di Jakarta.

Pada saat menjadi mahasiswa itulah pikiran saya mulai resah. Keresahan muncul akibat seringnya saya bergaul dan berdialog dengan mahasiswa yang beragama lain. Ya, waktu itu memang paling asyik bagi saya untuk membicarakan masalah agama. Keresahan yang saya alami justru berasal dari agama yang saya anut sejak kecil, dus berarti agama resmi keluarga.

Saya memang tidak bermaksud membuka rahasia agama lain. Apalagi menjelek jelekkan. Karena menurut saya menjelekkan agama adalah perbuatan yang tercela dan bisa mengakibatkan persatuan bangsa menjadi goyah. Hanya saja, secara pribadi saya menemukan kejanggalan pada agama Katolik yang selama ini saya anut.

Setidaknya ada tiga kejanggalan yang saya temui. Pertama, soal dogma trinitas dan kisah penyaliban Yesus. Kedua, soal penghapusan dosa seseorang yang cukup dengan datang kepada pendeta seraya mengakui kesalahan. Kemudian yang bersangkutan diguyur dengan air suci oleh pendeta maka dosanya pun terampuni.

Ketiga, adalah soal hidup sesudah mati. Dalam agama Katolik amat ditekankan arti kematian seseorang. Bagi umat Katolik, yang mati akan langsung masuk surga. Mengapa demikian? Karena Katolik memiliki juru selamat, yaitu Yesus. Juru selamat seperti ini tidak dimiliki agama selain Kristen maupun Katolik. Memang enak dan menggiurkan. Tapi entahlah, saya malah tak mengerti.

Dalam kebingungan seperti itulah saya mencari jawaban yang memuaskan di hati. Tapi tak kunjung bertemu: Akhimya saya malas menjalankan ajaran Katolik. Ingin rasanya pindah agama. “Tapi agama mana ya?” kata saya membatin.

Memilih Agama

Bagaimana dengan Budha? Tampaknya saya kurang sependapat dengan agama-lain. Sebab, untuk menjadi tokoh agama itu, syaratnya tidak boleh kawin.

Bagaimana dengan Islam? Ya, saya memang tertarik pada agama ini. Mula-mula saya pergi ke masjid dan mushala sekadar ketemu teman-teman. Di situlah simpati saya pada Islam timbul lagi. Dengan pengalaman pengetahuan di SMP dulu, saya sering ber-tanya pada teman-teman. Semakin hari saya semakin tertarik. Bahkan, apabila melakukan suatu kegiatan saya tak ubahnya seperti seorang muslim sejati, seperti puasa atau pun shalat Id.

Meskipun begitu hidayah Allah belum saya terima sepenuhnya sebab saya belum bersyahadat. Namun, setelah bertemu dengan K.H. Nur Muhammad Iskandar S.Q., pengasuh Pondok Pesantren Asshiddigiyah Jakarta, minat dan niat saya untuk masuk Islam semakin kuat. Meskipun begitu masih juga belum mampu mengantarkan diri saya mengucapkan ikrar syahadat.

Tapi aneh, hidayah Allah muncul sekaligus setelah saya berkenalan dengan Sutirah yang kebetulan kos di sebelah rumah. Perkenalan itu semakin mendorong hasrat saya untuk masuk Islam. Akhirnya, pada suatu hari saya diajak berkunjung ke kampung halamannya.

Singkat cerita, akhirnya dengan perlahan dan khusyu, dengan dibimbing oleh Kiai Imron (Kepala Urusan Kesra) saya meng-ucapkan ikrar dua kalirnat syahadat. Nama saya diubah menjadi Ahmad Ichsan. Sejak itulah saya menjadi muslim. Sejak saat itu pula ajaran Katolik praktis saya tinggalkan. Kisah selanjutnya saya menyunting Sutirah sebagai teman hidup.

Walaupun kini saya tinggal di kampung istri saya yang mayoritas penduduknya beragama Islam, namun bukan berarti tanpa hambatan. Teryata ada juga yang tidak rela saya masuk Islam. Kebetulan ia masih satu desa dengan saya.

Berulang kali ia datang dan meminta agar saya “pulang kandang” alias kembali lagi ke Katolik. Tetapi, dengan tegas saya tolak ajakannya itu karena dalam Islam saya telah menemukan apa yang selama ini saya cari. Saya bukan sekedar percaya, tapi betul betul meyakininya.

Meski hubungan keluarga di Jakarta tetap baik, namun saya telah memutuskan untuk tinggal di desa istri saya, di Sidorejo, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal. Di tempat ini saya mencoba membuka toko keperluan pertanian dan rumah tangga. Mulai dari pupuk, obat-obatan, sabun, rokok, dan buku-buku sekolah.

Di desa ini saya betul-betul menemukan kedamaian. Di samping hidup di tengah-tengah kaum muslimin, yang lebih membanggakan lagi kini persis di depan ruko kami telah berdiri sebuah mushala sehingga saya tak perlu khawatir lagi terlambat mengikuti shalat jamaah, serta kegiatan-kegiatan keislaman Iainnya

(Sumber :http://www.gemainsani.co.id/ )

2. Stefanus R. Sumangkir : Masuk Islam Karena Fatwa Babi Haram

Sudah lama Stefanus R. Sumangkir bergerak membangun kelompok yang menjadi ajang berkumpulnya para mualaf (orang yang baru masuk Islam) di Tegal, jawa Tengah. Kelompok ini disebut sebagai Paguyuban Mualaf Kallama. Kini anggotanya sudah mencapai 19 orang. Kelompok itu berusaha untuk mandiri. Dana untuk organisasi didapat dari iuran anggota dan sumbangan dermawan. Paguyuban ini untuk ajang komunikasi dan juga wahana mendalami Islam,� ujar Sumangkir.

Penginjil

Jalan yang ditempuh Sumangkir untuk bisa membangun komunitas mualaf ini cukup berliku. Mulanya, Sumangkir yang kini berusia 56 tahun itu adalah seorang penginjil. Ajaran Kristen memang telah melekat pada keluarga Sumangkir sejak dia masih kecil. Pada 1986-1987, Sumangkir dikirim untuk menuntut ilmu di sekolah teologi di Malang, jawa Timur. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk jadi penginjil pun diserapnya. Hingga 1988, Sumangkir dipercaya Gereja Maranatha Slawi untuk membimbing jemaat.

Dia sempat dikirim ke Desa Karanggedang, Kabupaten Cilacap, jawa Tengah untuk misi Kristenisasi. Di desa yang mayoritas berpenduduk eks-tapol Pulau Buru itu, Sumangkir rajin mendekati warga agar masuk Kristen. Dengan semangat tinggi, Sumangkir bisa meluluhkan sebagian hati warga sehingga ada yang memeluk Kristen.

Di Karanggedang ini Sumangkir mengaku kali pertama mendapat hidayah dari Tuhan. Saat saya menemui seorang yang akan kami Kristen-kan, orang itu bertanya kepada saya tentang Tuhan yang katanya satu tetapi mencipta dua hukum. Contohnya tentang babi, Kristen menghalalkan dan Islam mengharamkan. Atas pertanyaan itu saya kebingungan, ujarnya mengenang.

Haramkan Babi

Sejak itu dia mencoba membuka-buka Injil yang menjadi pedoman bagi agama Kristen. Ternyata Surat Imamat 11 ayat 7 menyebutkan babi haram karena memiliki dua kuku yang terbelah. Namun, para pendeta Kristen saat mengajar di gereja-gereja tak menyatakan babi haram bagi umat Kristen. Beberapa tahun berlalu, Sumangkir mendapat tugas mengajar di Gereja Maranata dan GPPS Budimulya di Slawi, Kabupaten Tegal. Di situ Sumangkir berceramah di hadapan jemaat tentang babi yang diharamkan. Ternyata ceramah itu menjadi tidak berkenan bagi majelis gereja. la pun langsung diskors. Nama Stefanus Sumangkir dihapus dari daftar penceramah tanpa alasan.

Saat itu Sumangkir tidak langsung berganti agama, namun tetap saja pada pendirian sebagai penginjil. Secara mandiri dia aktif mencari sasaran di tengah masyarakat yang miskin. Kehidupan sebagai penginjil cukup menopang ekonominya pada waktu itu. Dua anaknya, Euneke Alfa Lidia (16 tahun) dan Critoper Pitagoras (13 tahun) bisa sekolah dan hidup layak.

Di tengah kegalauan jiwanya tentang keyakinan dalam beragama, Sumangkir mendapat hidayah yang kedua. Kali ini lewat tayangan televisi Indosiar yang memutar film Ramadan berjudul jamaludin Al Afghani. Film tentang tokoh Islam itu mengetuk hati keluarga Sumangkir untuk memeluk Islam. Dari sinilah ghirah Islamnya terus tumbuh, sampai akhirnya dia membangun Paguyuban Mualaf Kallama.

Diperlalukan Tidak Adil

Mulanya, kelompok ini menggelar pengajian rutin setiap rnalam Senin, bertempat di rumah Sumangkir di jalan Murbei No. 16, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Mereka biasanya memanggil ustad untuk menambah ilmunya. Anggota paguyuban mualaf yang dipimpin Sumangkir ini terkadang harus lapang dada diperlakukan tidak adil.

Perlakuan seperti ini, misalnya pernah dialami Gunawan yang bekerja di sebuah toko emas di Kota Tegal. Sejak lama Gunawan menjadi penganut Katolik yang taat, namun akhirnya dia memilih masuk Islam. Saat masih memeluk Katolik, lingkungan tempatnya bekerja terbilang kondusif.

Namun, begitu Gunawan ketahuan setiap jumat pamit ke masjid untuk salat jumat, pemilik toko menjadi kurang berkenan. Akhirnya Gunawan dipecat.

Karena kebutuhan ekonomi, akhirnya para mualaf yang semula aktif mengikuti kegiatan pengajian menjadi berkurang. Ya saya maklum, mereka harus bisa menghidupi keluarga. Sehingga, mereka memilih keluar kota mencari pekerjaan, tutur Sumangkir.

Sumangkir sendiri menggantungkan hidupnya sebagai penceramah dibantu istrinya, Siti Fatimah, yang juga mualaf, yang tiap hari berjualan nasi gudeg. Karena faktor kesibukan itu, aktivitas Paguyuban Mualaf Kallama tak lagi rutin. Namun, Sumangkir tetap ingin menjalankannya. Kini sedang dirintis agar paguyuban itu bisa menjadi ajang usaha bersama.

Beberapa anggota yang memiliki keahlian akan dirangkulnya. Sumangkir yang piawai dalam membuat papan reklame dan sablon, akan merintis usaha dalam bidang tersebut. Cuma, katanya, kini belum punya modal. Untuk membangun usaha reklame memang diperlukan peralatan seperti kompresor dan peralatan sablon yang harganya cukup mahal.

Bersama anggotanya, dia akan terus berupaya agar ada penghasilan yang bisa menghidupi keluarganya dan Paguyuban Mualaf Kallama.

(Sumber : http://www.mualaf.or.id )

3. Bisara Mahmud Sianturi : Masuk Islam Melalui Perbandingan Agama

Nama saya Bisara Mahmud Sianturi, kelahiran Tapanuli Utara. Keluarga saya pemeluk Kristen yang taat. Ayah saya, Mangantar Sianturi, bekerja sebagai mandor di perkebunan kelapa sawit, Jambi. lbu saya, Delima Boruhombing, seorang ibu rumah tangga biasa. Saya sulung dari lima bersaudara, satu laid-laki dan tiga perempuan.
Masa kecil saya sangat kental dipengaruhi ajaran Kristen. Orang tua kami sangat keras dalam hal agama. Mereka selalu menyuruh saya agar rajin ke gereja. Ayah juga seorang pengurus gereja. Kakek saya sendiri, pendiri Gereja HKI (Huria Kristen Indonesia) pertama di Indonesia sebelum pecah menjadi HKBP (Huria Kristen Batak Protestan).

Sebagaimana anak-anak lain di kampung mayoritas Kristen, saya tak luput memperoleh pelajaran agama. Salah satu penanaman doktrin ajaran Kristen yang membekas hingga kini adalah, “Tak ada umat manusia yang layak sampai ke Tuhan di surga tanpa melalui Yesus.” Atau dengan kata lain, semua umat manusia adalah musuh Tuhan jika mereka tidak mengikuti ajaran Yesus. Saat itu, saya yakin benar dengan ajaran tersebut.

Perubahan mulai terjadi kira-kira tahun 1967, ketika ayah pensiun dan kemudian pindah ke Lubuk Pakam, Sumatra Utara. Di sini pula saya mulai mengenal Islam lewat teman-teman sekelas.

Menghadap Walikota Medan

Suatu hari, saya merasa sedih melihat anak-anak seusia saya yang tidak sekolah. Mereka sedikit sekali yang tamat SMP, sebagian benar hanya tamat SD. Mereka terpaksa putus sekolah karena membantu mencari nafkah orang tuanya. Banyak dari mereka yang bekerja di Pabrik Karet PT Asahan. Bahkan, salah satu tetangga saya sempat bercerita bahwa pekerjaannya sangat berat, namun upah yang diterimanya minim sekalL Katanya, banyak yang tidak kuat. Tetapi mereka tdak berdaya, karena didesak oleh kebutuhan hidup.

Tanpa pikir panjang, saya segera berangkat ke Medan untuk menghadap wali kota. Tetapi, niat saya itu tidak segera terwujud, karena ditolak ajudan dengan alasan wali kota berada di luar kota. Saya tidak putus asa. Pada hari lain, saya datang lagi dengan maksud yang sarna. Tetapi, tetap tidak berhasil. Saya datang lagi, hingga lima kali berkunjung, dan keenam. kalinya saya diterima langsung oleh wali kota.

Di hadapan wali kota, saya ceritakan semuanya. Rupanya, wall kota sudah mengetahui itu. Dia berjanji akan segera membantu. Karena waktu itu, negara kita masih kacau setelah dilanda G30S/PKI, maka belum bisa dilaksanakan. Saya pun mengerti. Namun, setelah itu, wali kota menawarkan saya tinggal di rumahnya. Saya setuju, karena dengan mudah bisa bertemu dengannya.

Berdebat dan Masuk Islam

Sore itu, secara tak sengaja saya memperkenalkan ajaran Kristen pada anak wali kota. Tak lupa, saya ajarkan pula lagu-lagu gereja. Tetapi, misi saya itu diketahui oleh H. Nurdin (mertua wali kota). “Saya tertarik cucu saya kamu ajarkan lagu-lagu gereja dengan baik” kata H. Nurdin ketika itu.

Saya kaget, karena tak mengira ia mendengarkan. “Coba tunjukkan pada saya kebenaran ajaran Kristen melalui injil,” lanjutnya. “Kalau memang ada kebenaran, saya tak keberatan cucu saya kamu bawa ke gereja,” tantangnya.

H. Nurdin kemudian menunjuk segelas teh di atas meja, “Coba jawab, duluan mana air atau Tuhan?” katanya memancing. Saya menjawab enteng, “Jelas duluan Tuhan.”

“Kalau menurut ajaran kamu begitu, berarti kamu pembohong! Karena Tuhan kamu baru lahir belum ada dua ribu tahun lalu. Sedangkan air ini adanya sudah lama sekali. jadi, ajaran agama kamu itu bohong,” tegasnya.

Saya masih bisa mengelak dengan mengatakan bahwa yang dimaksud baru lahir belum ada dua ribu tahun adalah Tuhan Yesus. Tetapi, H. Nurdin menyangkal lagi, “Kalau Tuhan Anak belakangan dan Tuhan Bapak duluan, maka itu tidak mungkin, karena tuhan kamu adalah tiga yang tidak terpisah, seperti air, teh, dan gulanya, menjadi satu. Jadi, kalau tumpah, katakanlah setetes, maka semuanya ikut tumpah, baik airnya, tehnya, maupun gulanya. Tidak mungkin hanya tehnya saja, atau gulanya saja yang tumpah, sementara airya tetap di gelas,” jelasnya.

Mendengar uraian itu, hati kecil saya tak menolak. Selanjutnya dia menjelaskan lagi bahwa dalam Injil, Nabi Isa menyebutkan adanya seorang pengganti di masa datang sebagai pengganti Yesus. Saya akui itu. Tetapi, sepengetahuan saya, yang dimaksud pengganti di masa mendatang adalah Yesus. Sementara, di sekte lain, penggantinya adalah Elias. Lalu, sekte lain seperti Pantekosta menyatakan Roh Kudus.

Namun H. Nurdin mengatakan adalah Nabi Muhammad saw, Saya tak bisa pungkiri, setelah kutemukan dalam Injil Yohanes ayat 23 yang berbunyi, “Berbahagialah kalian kalau Aku kembali kepada Bapa di surga, karena kalau Aku tidak kembali, maka pengganti-Ku tidak akan datang. Apabila Aku kembali, Aku akan menyuruh dia datang kepadamu untuk menegakkan hukum dan kebenaran. Ikutilah Dia, karena memang Dia berkata menurut perintah Bapa di surga.”

Kebenaran Kristen juga dipertanyakan H. Nurdin. Mengapa ajaran yang dibawa oleh satu orang utusan, tetapi tidak ada tata cara yang pasti dalam menyembah Tuhan. Artinya, yang membawa ajaran Kristen tidak memberi contoh yang pasti dan baku tentang bagaimana cara menyembah Tuhan yang sebenarnya. “Lihat cara ibadah khusus Katolik, mengapa lain dengan Protestan, Pantekosta, juga Advent? Padahal yang membawa ajaran satu orang,” tuturnya.

Lalu, ia membandingkan bahwa caranya shalat umat Islam di seluruh dunia itu sama. Ucapan-ucapan dalam shalat juga sama. Mendengar penjelasan itu, saya mulai ragu terhadap ajaran Kristen. Apalagi ketika H. Nurdin menjelaskan banyak ayat-ayat Injil yang tidak pernah diikuti oleh orang Kristen sendiri, seperti perintah sunat (khitan), haramnya memakan daging babi, dan kewajiban memakai kerudung bagi kaurn wanita, dan lain-lain.

Perintah yang dilanggar itu setelah datang Paulus yang menyuruh tidak bersunat. Katanya, Paulus sudah mendapatkan wahyu. Padahal, Paulus itu tak ada hubungannya dengan Yesus, terpaut kurang lebih 500 tahun.

Setelah mendapatkan keterangan yang begitu mendalam, akhirnya, kebekuan hati saya mulai mencair Saya menerima kebenaran Islam. Alhamdulillah, sejak itu aku mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat, dan resmi menganut agama Islam.

(Sumber : http://www.mualaf.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: