Cerpen Akhir Masa


Belum pernah aku lapar selapar hari itu. Rasa lapar yang serasa membakar perutku. Perih yang menghujam-hujam tiada henti. Bekerja seharian, tujuh hari dalam seminggu, tiga puluh hari dalam sebulan, dan tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, tiga ratus enam puluh lima dikali dengan 30 tahun. Tapi jangan tanyakan dari tiga ratus enam puluh lima hari itu berapa kali aku makan. Kalau yang kalian bicarakan keidealan orang makan tiga kali sehari, sungguh tak pantas aku jawab pertanyaan kalian. Yang pasti kalian akan ternganga dengan angka yang aku keluarkan. Dan untuk menghitung perkalian-perkalian itu tak mampu lagi otakku ini berpikir. Tak tahukah kalian bahwa untuk menghitung kita butuh tenaga, dan tenaga itu akan kita peroleh dari asupan makanan. Tapi sayangnya energiku habis untuk berlari. Nah. Pada saat mati aku sedang kelaparan. Dan kelaparan inilah yang secara tidak langsung membuat aku mati. Tahukah kalian apa yang membuat aku kelaparan? Ya! Jelas sekali. KEBODOHAN. Sebentar, kalau begitu aku bukan mati karena kelaparan tapi aku mati karena KEBODOHAN. Masih saja kalian tak mengerti. Kalau kalian begini saja tak mengerti bisa juga kalian mati lapar dan haus jasmani dan rohani seperti aku ini. Mungkin akan lebih baik aku menceritakan bagaimana KEBODOHAN bisa membunuhku.

Siang itu hari Jumat tanggal 7 Maret 2008. Pastinya akan ada banyak rezeki di hari Jumat. Dan bukankah hari Jumat adalah hari yang baik untuk mengingat Allah. Tuhan semesta alam. Jika aku mengingat Allah maka aku juga akan teringat kepada istri dan anakku juga dengan istri dan dua anakku. Ya ya ya, walaupun kere tapi aku punya daya pikat yang bisa menaklukkan dua wanita yang juga BODOH dengan mau aku nikahi, terlebih aku madu. Dengan mengingat tanggung jawab kepada istriku maka akan muncul ritual hari Jumat setelah aku diberhentikan sebagai petugas kebersihan sebuah kantor pos yang tutup karena tergeser kemajuan teknologi. Ritual seusai khotib menyampaikan ceramah. Ritual yang hanya aku lalukan sendiri, fardhu kifayah bagi keluargaku. Dan sebaik-baiknya shaf untuk ritual ini adalah shaf yang paling belakang.

“Allohu allohu akbar asyahadu anlaa ilaaha illallaah asyahadu anna Muhammadar rasulullooh Hayya’alas shollaah…” suara Muazin.

Belum selesai Muazin mengumandangkan iqamat maka jamaah sholat Jumat akan berdiri dan bersiap untuk berebut shaf terdepan. Aku pun juga tak mau kalah dengan langsung berdiri mengambil posisi siap untuk sholat. Ketika imam mengumandangkan “Allohu akbar”. Maka ritualku akan segera dimulai. Hmmm… sandal merah sporty­ dengan merk terkenal di kalangan pemuda bersimbol satu centangan, bersih, baru ,dan bagus. Tadi ketika aku baru datang seorang pemuda gempal berkaus biru dengan gambar kepala kelinci putih di dada kiri, mengenakan celana jeans ketat baru turun dari motor Ninjanya. Cis… dia pikir dia mau ke mana, aku saja yang mau mencuri masih memakai baju koko dan kopyah putih. Dasar anak muda, apa dia pikir akan ada malaikat yang tertarik padanya dengan mengatakan pada Allah untuk menempatkan dia sebagai penghibur ahli surga wanita. Yang ada dia akan diperhatikan oleh laki-laki dengan ‘orientasi’ yang terganggu, dan ia akan mendapat dosa dengan secara tidak langsung memberikan godaan itu. Maka sebelum ia diperingatkan oleh Allah dengan azab yang lebih pedih, aku akan memberinya sedikit peringatan.

Aku langkahkan kakiku menuju tempat sandal itu berada. Di dekat tempat wudhu terbuka tepat di depan ia memarkir motor Ninjanya. Yap sebuah pencerah dalam hariku. Sepasang sandal yang terletak di atas sandal japit butut berwarna kuning bermerk bahasa Inggris yang kalu tidak salah ingat dalam bahasa Indonesia berarti menelan. Tega benar pabrik itu. Membodohi berjuta-juta rakyat Indonesia dengan cara seperti itu. Apakah itu sindiran kepada ratusan rakyatnya yang diimpor ke Malaysia, Hongkong, Taiwan, Jepang, dan Arab hanya untuk mengumpulkan suapan-suapan nasi tapi harus diinjak-injak seperti alas kaki dulu oleh majikan.

Ahhh… terlalu lama aku ngelantur bisa-bisa ritualku ini gagal. Tidak memperlambat waktu lagi kuambil target operasiku kali itu. Saat akan aku sembunyikan rezeki di hari Jumat yang suci terdengar suara dari dalam lambung yang meronta meminta mangsa. Tunggu setengah jam lagi pasti kau akan tidur tenang kekenyangan batinku. Setelah suara itu, muncul juga perih dari perutku diikuti teriakan maling seorang anak laki-laki yang entah darimana keluarnya. Ia berteriak tepat ketika imam mengucapkan salam. Sontak para jamaah shaf-shaf belakang yang mendengar teriakan bocah itu menoleh ke belakang, beberapa langsung berdiri. Seorang berbadan tegap dengan potongan rambut yang pendek khas militer segera berlari ke arahku. Tanpa pikir panjang kulanjutkan ritualku dengan detil di luar rencana, lari.

“Maling… maling…” teriak para jamaah yang kini terlihat lebih bersemangat untuk mengejar maling daripada bersemangat lari untuk mengejar ketertinggalannya saat sholat berjamaah sudah dimulai. Aku berlari ke arah jalan raya yang terlihat sepi. Maksudku akan menembus ladang tebu di seberang jalan. Tapi Allah bermaksud lain, ketika aku tepat berada di tengah jalan raya, sebuah mobil pick up yang mengangkut tiga ekor sapi melesat dari arah timur, sepersekian detik kemudian menghantam tubuhku yang sudah lemas kelaparan dan panas dingin ketakutan.

“Bruakkk…”

“Mooooooo…” Sapi itu seakan mengejek hina dan tragisnya kematianku

orang-orang yang berada di sekitar tanpa komando segera mengerubutiku. Satu persatu dari mereka pasti sedang mencemoohku. Mungkin juga ada orang-orang yang dengan iba mengasihaniku. Belas kasih kepada orang miskin yang mati tertabrak pick up saat ia dikejar setelah ketahuan mencuri sandal di masjid. Pada hari Jumat pula. Sebagain orang yang pernah mendengar hukum mati setiap hari Jumat di Arab pasti menghubungkan peristiwa tragis ini, juga berbagai pemikiran-pemikiran lain. Pastinya tidak ada yang positif. Mereka tetap berpendirian, maling ya maling penyakit yang sulit sembuh. Bagiku ini bukan penyakit dalam hati dan pribadiku. Tapi ini suatu kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang suami, ayah,dan imam.

Sebelum menghadapi ujung pangkal hidupku, terngiang kembali ceramah khotib Jumat tadi. Ia menceritakan tentang pencuri dan seorang abid (ahli ibadah) pada zaman Nabi Musa a.s. Suatu hari pencuri melihat Nabi Musa a.s. sedang berjalan. Terlintas di hatinya untuk berjalan bersama Nabi Musa a.s. Tetapi setelah dipikirkannya, dia tidak jadi melangsungkan niatnya itu. Dia berkata, “Aku ini pencuri. Manalah layak pencuri macam aku berjalan bersama seorang nabi.”

Kemudian, dia melihat seorang abid berlari-lari mengejar Nabi Musa a.s. dari belakang. Si abid ini telah beribadah secara istiqamah selama 40 tahun dan pencuri berkata di dalam hatinya, “Baik aku berjalan bersama si abid ini. Semoga ada juga baiknya untukku.”

Lantas si pencuri menghampiri abid dan meminta kebenaran untuk berjalan bersamanya. Abid terkejut dan takut. Dia berkata di dalam hatinya, “Celaka aku! Kalau si pencuri ini berjalan bersama aku, takut-takut nanti rusak segala kebaikan dan amalanku.”

Abid terus berlari supaya pencuri tidak dapat ikut. Pencuri terus mengikut abid kerana ingin berjalan bersamanya. Akhirnya mereka sampai bersamaan di belakang Nabi Musa a.s. Nabi Musa a.s. berpaling dan bersabda kepada mereka berdua, “ Aku baru saja mendapat wahyu dari Allah Taala supaya memberitahu kamu berdua bahwa segala amalan baik dan buruk kamu telah dimansuhkan oleh Allah.”

Maka terkejutlah abid dan pencuri tadi. Berbahagialah si pencuri kerana segala dosanya mencuri selama 40 tahun telah diampunkan oleh Allah. Celakalah abid kerana segala amalan dan ibadahnya selama 40 tahun telah ditolak dan tidak diterima oleh Allah.Rupa-rupanya si pencuri itu, walaupun mencuri, dia tidak suka perbuatannya. Dia miskin dan tanggungannya banyak. Masyarakat ketika itu sudah rusak dan orang kaya enggan membantu fakir miskin. Dia mencuri kerana terpaksa.. Selama 40 tahun dia menanggung rasa berdosa itu dan selama itu juga jiwanya parah menanggung derita. Selama 40 tahun hatinya merintih meminta belas kasihan, keampunan dan mengharapkan kasih sayang Tuhan. Sedangkan abid amat yakin ibadahnya mampu menyelamatkannya. Dia yakin ibadahnya akan dapat membeli Syurga. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah baik. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah mulia. Selama 40 tahun abid ini mendidik hatinya supaya merasa lebih baik dan lebih mulia setiap kali dia membuat ibadah. Hingga dia rasa tidak layak bergaul, inikan pula berjalan bersama orang yang hina dan berdosa Maha Suci Allah yang mengetahui segala isi hati manusia. Yang tidak melihat akan amalan-amalan lahir tetapi apa yang ada di dalam hati. Yang menilai hamba-Nya mengikut apa yang termampu oleh hamba-Nya dan tidak lebih dari itu. Yang menguji manusia dengan kesusahan dan nikmat untuk mengetahui siapa di kalangan hamba-hamba-Nya yang benar-benar berjiwa hamba dan merasa bahawa Allah itu Tuhannya.

“Ya Allah Yang Maha Pengampun, aku percaya kau mengetahui isi hatiku maka ampunilah aku. Bukankah aku mencuri juga karena terpaksa. Tak ada lagi umat-Mu yang mengingat untuk memberikan sedikit rezekinya pada aku dan keluargaku. Nyatanya tetanggaku bisa berhaji hingga tiga kali namun mereka seolah buta dengan tetangganya yang miskin seperti aku. Toh, kali ini aku mencuri juga untuk mengingatkan pemuda itu untuk beribadah kepada-Mu dengan lebih baik. Bahkan aku baru mencuri sejak diberhentikan setahun lalu. Sangat jauh dari 40 tahun. Ya Allah, kelihatannya sudah sampai di ujung kepala hidup ini dengarlah pintaku, muliakan istri dan anakku, serta…”

Aku tak bisa memperlambat ini lagi. Telah lama utusan-Nya menunggu di sampingku. Dan Allah Maha Tahu. Inilah saat terakhirku. Kurasakan segala gundah yang memberati langkahku sirna. Setetes keikhlasan menetes menutup mata ragaku.

dikutip dari : http://www.kolomkita.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: