Ujian sebagai Penguat hati


Assalaamu’alaikum wR.,
Sahabat semua tercinta yang diRahmati Allah Ta’ala,

Berbincang mengenai UJIAN HIDUP, apabila kita merujuk kepada kata-kata Allah Ta’ala dalam Al-Qur`an, bahwa dunia ini memang merupakan ajang ujian dan hal ini merupakan sesuatu yang harus ditanamkan dalam qalb setiap insan yang berniat untuk berjalan kembali kepada Rabbnya. Ujian akan senantiasa mengiringi seorang salik selama hayat dikandung badan dan selama dirinya menyatakan beriman. Semakin tinggi tingkatan imannya maka akan semakin tinggi pula ujiannya. Ujian biasanya selalu menghantam sisi terlemah manusia hingga lama-kelamaan sisi lemah tersebut pun menjadi kuat. Hal ini karena untuk menjalankan amanah Allah Ta’ala, sang manusia haruslah kuat dan tangguh, di samping harus pula memiliki karakter ke-Lathif-an-Nya atau ke-Maha Lemah Lembut-an-Nya. Karena itu pula, maka dengan sendirinya ujian pun merupakan Rahmaan dan Rahiim dari Sang Maha Suci Allah Subhanahuwa Ta’ala kepada manusia dengan menunjukkan sisi-sisi lemah dari sang hamba yang perlu diperkuat dan diperteguh-Nya.
Ujian pun bertujuan untuk memasukkan seorang manusia ke dalam golongan Hizbullah. Manusia dikatakan satu golongan apabila mereka memiliki karakter yang sama.
Demikian pula halnya untuk menjadi Hizbullah, maka manusia tersebut harus mempunyai karakter yang “sama dengan” karakter Allah SWT, walaupun masih buram namun minimal merupakan “bayangan” dari karakter Allah Ta’ala. Dan untuk bisa mengetahui hal ini, manusia harus melalui ujian demi ujian sehingga dapat diketahui sejauh mana pengabdiannya kepada Allah
Ta’ala. Jalan yang paling cepat bagi seorang manusia untuk bisa menjadi “bayangan” (tajalli) dari karakter Allah Ta’ala adalah sifat Rahmaaniyyah.
Sifat pemurah itu sepohon kayu dari kayu surga. Dahan-dahannya terkulai ke bumi. Maka siapa yang mengambil sedahan daripadanya niscaya dahan itu membawanya ke surga. (Al-Hadits)

Allah SWT tidak membuat karakter wali-Nya selain di ataskarak terbaik akhlak dan pemurah. (Al-Hadits) Sesungguhnya orang-orang mulia dari umatku tidak akan masuk surga dengan shalat dan puasa. Tetapi mereka masuk surga, dengan jiwa yang pemurah, dada yang sejahtera dan karena nasehat kepada orang-orang muslim.(Al-Hadits)
Pemurah itu sepohon kayu dalam surga. Maka siapa yang pemurah
niscaya tidak akan meninggalkannya sehingga dimasukannya ke surga. Dan kikir itu sepohonkayudalam neraka. Maka siapa yang kikir, niscaya ia mengambil sedahan dari dahan-dahannya. Maka dahan tersebut tidak akan meninggalkannya
sehingga dimasukannya ke neraka. (Al-Hadits)
Dua perangai yang disukai oleh Allah SWT dan dua perangai yang dimarahi oleh Allah SWT. Adapun dua perangai yang disukai oleh Allah
SWT ialah bagus akhlak dan pemurah. Adapun dua perangai yang dimarahi olehAllah SWT ialah jahat akhlak dan kikir. Apabila Allah menghendaki kebajikan pada seorang hamba niscaya dipakai-Nya hamba itu pada menunaikan hajat manusia. (Al-Hadits)

Bahwa ini adalah Ad-Diin yang Aku ridha bagi Nafs-Ku sendiri. Dan tiada akan diperbaiki Ad-Diin ini selain oleh sifat pemurah dan bagus akhlak. Maka muliakanlah Ad-Diin ini dengan dua sifat tersebut, menurut kesanggupanmu! (Al-Hadits)

Ujian juga merupakan salah satu pupuk yang dibutuhkan untuk menumbuh-suburkan pohon taqwa, karena itu dengan menghindari “hidangan ujian” berarti manusia itu sedang “membonsai” pohon taqwanya.
Sebagaimana seorang ayah merawat anaknya, maka Allah memelihara
hamba-hamba yang disayanginya dengan ujian-ujian. (Al-Hadits)

Mengenai hal ini, lebih jauh Maulana Jalaluddin Rumi r.a. mengatakan :
Lihatlah buncis dalam periuk, betapa ia meloncat-loncat selama menjadi
sasaran api. Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan, merintih terus menerus tiada henti,
“Mengapa engkau letakkan api di bawahku? Engkau membeliku: Mengapa
kini kausiksa aku seperti ini?
Sang istri memukulnya dengan penyendok, “Sekarang,” katanya, “jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang
menyalakan api.
Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencianku;
sebaliknya inilah yang membuatmu menjadi lebih lezat.
Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup; kesengsaraan
bukanlah penghinaan. Ketika engkau masih hijau dan segar, engkau minum air di dalam kebun:air
minum itu demi api ini.Kasih Tuhan itu lebih dahulu daripada murka-Nya, tujuannya bahwadengan dengan kasih-Nya engkau dapat menderita kesengsaraan.
Kasih-Nya yang mendahului murka-Nya itu supaya sumber penghidupan,
yangada, dapat dihasilkan; Bahkan kemudian Tuhan Yang Maha Agung membenarkannya, berfirman,’Sekarang engkau telah tercuci bersih dan keluarlah dari sungai.’ teruslah, wahai buncis, terebus dalam kesengsaraan sampai wujud ataupun diri tak tersisa padamu lagi.
Jika engkau telah terputus dari taman bumi, engkau akan menjadi
makanan dalam mulut dan masuk ke kehidupan.
Jadilah gizi, energi, dan pikiran! Engkau menjadi air bersusu: Kini
jadilah singa hutan! Awalnya engkau tumbuh dari Sifat-Sifat Tuhan: kembalilah kepada Sifat-Sifat-Nya!
Engkau mejadi bagian dari awan, matahari, dan bintang-bintang: Engkau
‘kan menjadi jiwa, perbuatan, perkataan, dan pikiran. Kehidupan binatang muncul dari kematian tetumbuhan: maka perintah, ‘bunuhlah aku, wahai para teman setia,’ adalah benar. Lantaran kemenangan menanti setelah mati, kata-kata, ‘Lihatlah, karena dibunuh aku hidup,’ adalah benar. Sebelum seorang manusia berhasil mencapai tingkatan ma’rifat, maka imannya
>akan sering naik turun karena qalb (hati)nya masih dipenuhi oleh
penyakit,
yaitu penyakit hawa nafsu (nufuwsul hawiyyah). Karena penyakit qalb
inilah,
maka Allah Ta’ala mengobatinya dengan teguran atau tamparan yang
berupa ujian. Dan karena penyakit-penyakit hatinya ini pulalah maka Nafs(Jiwa) manusia menjadi gelap, pekat, bisu, tuli, pekak, lumpuh, dan tak berdaya, sehingga dirinya tidak mampu menerima Nur-Nur Petunjuk dari Allah Ta’ala yang langsung DIA berikan ke dalam qalb (hati) kita.
Kesemuanya ini pada hakikatnya merupakan pemberian Allah Ta’ala sebagai tanda Kasih Sayang-Nya (Rahmaan dan Rahiim-Nya) kepada hamba-hamba-Nya yang DIA sukai, dan terlebih lagi kepada hamba-hamba yang DIA cintai. Oleh karena itu seorang salik harus senantiasa bisa melihat bahwa segala sesuatu itu Al-Haqq dari Rabbnya, melihat bahwasanya ujian itu merupakan tanda bahwa DIA Ta’ala masih ingat kepadanya dan tidak membiarkannya dalam ketenangan semu. Bahwa DIA Ta’ala melakukan itu semua untuk mensucikan dan membentuk pribadi sang salik / hamba yang sedang berjalan kepada-Nya, sebagaimana sepotong besi haruslah dibakar api agar bisa dibentuk menjadi sesuatu (bisa dilihat di surat Al-Hadiid). Ataupun seperti karpet yang dijemur di bawah terik matahari dan kemudian dipukuli untuk menghilangkan debu dan kotorannya, sehingga sang insan pun bisa mendapatkan kembali Cahaya Iman Sejati (Nur Iman) dalam qalb (hati)nya yang dulu pernah dibawanya di saat dirinya dilahirkan ke dunia ini.
Demikianlah, Sahabat, sedikit uraian yang ingin saya share-kan dengan
Sahabat tercinta semua.
Mohon maaf andaikan ada kata-kata saya yang mungkin kurang sesuai pada
tempatnya.
Semoga Rahmat dan Kasih Sayang Allah Ta’ala senantiasa menyertai…

Wassalaamu’alaikum wR.,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: