AKU YANG SELALU MENCINTAIMU……………………..


Seorang yang bernama pak Balam dan isterinya, adalah sepasang suami isteri yang baru
dikaruniai seorang anak setelah keduanya berusia agak lanjut. Betapa bersyukurnya mereka
berdua. Sebab setelah sekitar Sepuluh tahun menikah, barulah harapan mereka terpenuhi,
sehingga ketika anak mereka berusia sekitar sepuluh tahun, usia Pak Balam dan Bu Balam
menginjak sekitar umur lima puluh tahun.
Bu Balam begitu kepikiran. Setiap menonton acara di televise, terutama yang berkaitan dengan
sikap anak-anak kepada orang tuanya yang tidak berbakti, kasar dan sikap yang tidak terpuji
lainnya. Hati Ibu Balam semakin resah, apalagi tetangga Bu Balam di sebelah rumah sering
bertengkar dengan ibu kandungnya sendiri yang usianya sudah lanjut. Maka semakin
menambah khawatir hati Bu Balam. Ia selalu berdo’a agar anaknya kelak menjadi anak shaleh
dan selalu berbakti kepada orang tua. Begitu sensitifnya Bu Balam, sehingga selalu berpikir
kalau mereka sudah lanjut usia, bagaimana sikap anaknya kelak?
Pada suatu malam. setelah Bu Balam melakukan Shalat malam. Sambil merenung dan
memikirkan bagaimana dengan anaknya kelak terhadap kedua orang tuanya. Ia mengambil alat
tulis dan beberapa lembar kertas. Bu Balampun mulai menulis surat buat anaknya, kalimat demi
kalimat ditulisnya dengan tangan yang agak gemetar. Sehingga tak jarang ia mengusap air mata
yang mulai berjatuhan. Ia akan menyimpan surat tersebut. Selanjutnya ia berharap dan selalu
berdo’a bahwa pada suatu saat yang tepat nanti, anaknya akan membaca surat itu.
Surat tersebut berbunyi :
“…..Anakku, bila suatu saat kelak engkau dapati aku dan ayahmu sudah lanjut usia, jangan
engkau perlakukan kami sebagai orang tua yang tidak berguna. Mungkin saja pada saat itu
aku dan ayahmu sudah menjadi orang yang sering lupa, yang mungkin saja membuatmu
malu pada isterimu. Ingatlah anakku, ketika engkau masih kecil, ketika engkau tidak bisa
dan belum tahu apa-apa, aku dan ayahmulah yang mengajarkan segala hal padamu”.
“Ketika suatu saat nanti engkau dapati kami berdua tidak bias menopang tubuh kami yang
mungkin sudah renta, jangan malu menuntun kami. Bantulah kami seperti ketika kami
mengajari engkau berjalan saat usiamu satu tahun. Sungguh kami seharian tidak kenal
lelah mengajari engkau berjalan. Canda ria dan tawa bersama, selalu kita lalui saat itu
dengan penuh rasa bahagia”.
“Anakku, demikian pula ketika suatu saat akan engkau dapati kami berdua sakit, sehingga
kami tidak bisa makan sendiri, jangan malu dan enggan untuk merawat dan menyuapi kami,
ingat waktu dulu engkau sering sakit dan kami selalu berebut untuk menyuapimu, agar
kamu cepat sehat kembali”.
“Anakku, sungguh tidak banyak yang kami inginkan darimu. Senyumanmu, perhatianmu
dan ketulusanmu kepada kami ketika kami sudah tua nanti, adalah cahaya yang akan
menyejukkan hati kami. Karena engkaulah buah hati kami satu-satunya. Kami terlalu
menyayangimu anakku”.
“Anakku, bila saatnya tiba nanti, dan ternyata Allah memanggilku terlebih dahulu, rawatlah
ayahmu dengan penuh cintamu. Perlakukan ia dengan sabar, penuh perhatian dan juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: