Cinta menjadi Murka


Belum genap satu bulan, bumi pertiwi diguncang 3 gempa besar. Tasikmalaya, Padang dan Jambi. Ratusan atau bahkan ribuan saudara kita menjadi korban. Inna lillahi wa inna ilayhi raajiuun.

Sebagai manusia yang beragama, kita hanya bisa ber-positive feeling, menggunakan hati dan nalar untuk menangkap hikmah di balik kejadian ini. Allah, dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya tak akan pernah mendzalimi makhluk-Nya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

– QS. Al Baqarah: 216

Sahabat, saya tak pernah menyebut diri ini sebagai orang “baik” dan mengarahkan telunjuk kepada orang lain dan menyebutnya sebagai pendosa. Tak pernah. Maka tatkala bencana menimpa saudara kita, saya tak berani mengatakan bahwa itu azab. Saya selalu menganggapnya sebagai ujian. Sebagaimana yang Allah telah maklumkan dalam Al Qur’an:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

– QS. Al Baqarah: 214

Dalam ayat tersebut telah jelas, bahwa cobaan Allah berikan kepada Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya. Jadi, sebuah bencana terkadang tak ada hubungannya dengan salah dan dosa. Terkadang ia berupa keniscayaan untuk “menaikkan kelas” manusia.

Sahabat, negeri ini dikenal sebagai Zamrud Khatulistiwa. Negeri yang kaya raya. Tapi mengapa dengan limpahan kekayaan yang demikian besar masih kita saksikan antrian panjang minyak tanah, gizi buruk, pedagang kaki lima yang harus main kucing-kucingan dengan petugas dan ribuan rakyat yang mangadu nasib di luar negeri tanpa perlindungan?

Mungkin kita terlalu malas.

Jepang yang kesehariannya akrab dengan gempa menyesuaikan diri dengan konstruksi bangunan “tahan” gempa. Negara-negara di Eropa yang tandus dan susah air justru jadi negara eksportir sayur dan buah terbesar di dunia, dan banyak contoh bagaimana kerja keras mampu merubah sengsara menjadi nikmat.

Sahabat, agama ini mengajarkan kita untuk optimis.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu (al ‘ushr) ada kemudahan (yusro), sesungguhnya sesudah kesulitan itu (al ‘ushr) ada kemudahan (yusro).

– QS Al Insyirah: 5-6

Sahabat, mari kita perhatikan dua ayat di atas. Kesulitan ditulis dengan menggunakan awalan “al”. Yang dalam tata bahasa Arab dikenal sebagai “isim ma’rifat” atau “kata benda definitif”. Yang artinya, berapapun kata al ‘ushr (kesulitan itu) di ulang dalam surah ini, ia akan merujuk pada satu kesulitan saja. Berbeda dengan kata “yusro” yang ditulis dalam bentuk “isim nakirah“, ia tidak definitif. Yusro (kemudahan) pada ayat ke lima berbeda dengan yusro (kemudahan) pada ayat yang ke enam.

Artinya, secara matematis tafsiran ayat ini adalah sungguh sesudah satu kesulitan ada dua kemudahan. Jika kita terus belajar dan bekerja, niscaya semakin banyak bencana dan musibah yang menimpa, semakin banyak kemudahan yang akan kita terima. Bukankah itu sebuah karunia?

Pertanyaannya sekarang adalah, maukah kita bangkit memanfaatkan segala kemudahan yang Allah berikan ataukah kita memilih sibuk untuk mengkambinghitamkan orang lain, mempolitisir untuk kepentingan pribadi atau bahkan menyalahkan Tuhan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: