PENYELENGGARAAN JENAZAH

1. A. TUJUAN

Modul ini diharapkan dapat memberikan bekal kepada Anda tentang kompetensi pendidikan agama Islam. Karena itu, setelah mempelajari modul ini diharapkan Anda mampu :

1. Membaca, menulis, dan memahami ayat – ayat Al-Quran serta mengetahui hukum bacaannya dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari – hari
2. Beriman kepada Allah, dan lima rukun iman yang lain dengan mengetahui fungsi – fungsi hikmahnya serta terefleksikan dalam sikap, perilaku, dan akhlak dalam dimensi vertikal dan horizontal.
3. Beribadah dengan baik sesuai dengan tuntutan syariat Islam baik dalam ibadah wajib maupun ibadah sunnah serta mengamalkan system muamalat dalam tata kehidupan.
4. Terbiasa menjaga kelestarian lingkungan dalam kehidupan sehari – hari.
5. Meneladani sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah, para sahabat, tabi’in.
6. Mengambil hikmah dari sejarah perkembangan Islam untuk kepentingan hidup sehari – hari di masa kini maupun masa depan.

1. B. MANFAAT

Bahan pelatihan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi Anda, diantaranya adalah :

1. menambah wawasan pengetahuan dalam memahami mata diklat/pelajaran Pendidikan Agama Islam,
2. meningkatkan keterampilan membaca ayat – ayat Al-Quran yang popular dengan fasih dan benar sesuai dengan ilmu tajwid,
3. menambah wawasan pengetahuan tentang hikmah dibalik peristiwa sejarah dan isi kandungan ayat – ayat suci Al Quran serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari, dan
4. meningkatkan keterampilan dalam melaksanakan ibadah wajib dan sunnah dalam kehidupan sehari – hari, baik dalam hablum minallah maupun hablum minannas.

1. C. STRATEGI

Agar diperoleh hasil yang maksimal dalam mempelajari modul ini, ikutilah petunjuk berikut ini. Walaupun modul ini ditulis khusus berkaitan dengan pendidikan agama Islam, tetapi modul ini merupakan uraian yang memberi wawasan tentang mata diklat diluar pendidikan agama Islam. Wawasan ini dapat digunakan sebagai penopang kompetensi dasar mata diklat lain dan kompetensi lintas kurikulum.

Bahan penelitian secara utuh akan disajikan melalui komponen – komponen sebagai berikut :

1. Judul kegiatan belajar
2. Kompetensi yang mencakup kemampuan yang diharapkan untuk dikuasai setelah menyelesaikan kegiatan belajar yang bersangkutan.
3. Uraian materi yang meliputi uraian subkegiatan belajar/kegiatan-kegiatan yang bersangkutan.
4. Latihan subkegiatan belajar yang berisi wawasan konsep teori dan latihan uji kompetensi.
5. Rangkuman yang berisi uraian singkat setiap kegiatan belajar.
6. Evaluasi keseluruhan modul yang berisi latihan uji kompetensi keseluruhan modul.

Agar memperoleh manfaat yang optimal dari modul ini, Anda hendaknya memperhatikan langkah – langkah berikut ini :

1. Bacalah terlebih dahulu tujuan kegiatan belajar dan garis besar isi kegiatan yang tertera pada awal setiap kegiatan belajar.
2. Ceramatilah dengan seksama contoh materi kajian yang ada pada kegiatan belajar sampai mencapai tingkat pemahaman yang optimal.
3. Kerjakan latihan yang terdapat disetiap kegiatan belajar.
4. Untuk menguji kemantapan kompetensi Anda, kerjakan uji kompetensi.
5. Apabila dalam mencermati materi pelatihan dan mengerjakan latihan terdapat kesulitan, Anda diskusikan dengan teman atau instruktur pada saat pembelajaran atau tatap muka. Apabila tidak dijumpai kesulitan, Anda dapat mempelajari materi pelatihan, latihan, uji kompetensi kegiatan belajar berikutnya.
6. Cermati sekali lagi materi pelatihan secara cermat dan teliti untuk mengerjakan uji komptensi yang telah disiapkan.
7. Bila hasil yang dicapai belum sesuai target ketuntasan kompetensi, adakan remidi (belajar ulang) dengan jalan mencermati lagi atau berdiskusi dengan teman atau menanyakan kepada instruktur pada saat pelatihan/tatap muka. Setelah diperoleh hasil memenuhi target ketuntasan kompetensi, tunjukan dengan mencermati materi pelatihan, latihan, refleksi, dan uji kompetensi kegiatan belajar baru.

MODUL 3

PENYELENGGARAAN JENAZAH
Kompetensi Dasar Selayang pandang

* o Menjelaskan tatacara pengurusan jenazah
* o Memperagakan tatacara pengurusan jenazah

Alokasi Waktu

4 jam pelajaran (2 X KBM)

Di laksanakan

Pada kegaiatan ke 6 s.d 7

Tujuan Pembelajaran :

* Mendiskusikan tata cara memandikan jenazah.
* Mendiskusikan tata cara nmengkafani jenazah.
* Mendiskusikan tata cara menshalatkan jenazah.
* Mendiskusikan tata cara menguburkan jenazah.
* Mempraktikkan tata cara memandikan jenazah.
* Mempraktikkan tata cara mengkafani jenazah.
* Mempraktikkan tata cara menshalatkan jenazah.
* Mempraktikkan tata cara menguburkan jenazah.

Diantara hak orang yang sakit atas saudaranya yang Muslim ialah menjenguknya dan menyampaikan kegembiraan kepadanya. jika keadaannya semakin kritis, maka orang-orang yang menjenguk dapat mengingatkannya untuk bertaubat, melunasi hutang dan memberi wasiat. Dia dapat melakukannya dengan lemah lembut, tidak membuatnya merasa ketakutan karena telah dekat ajalnya. Orang yang sakitpun harus tegar keluar dari kezhaliman, memohon ampunan dari berbagai kedurhakaan dan berbaik sangka kepada Allah.

Jika ajalnya sudah dekat, disunnahkan kepada orang yang hadir didekatnya untuk membimbingnya mengucapkan “Laa Ilaa ha IlaLlah” secara perlahan dan menghadapkannya kearah kiblat. Jika sudah meninggal, hendaklah kedua matanya dipejamkan, sendi-sendinya dilemaskan serta mempercepat pengurusannya selagi tidak ada kemaslahatan untuk menundanya. Pada saat-saat itulah Islam melalui petunjuk Rasulullah telah menentukan hukum-hukum yang berkaitan dengannya, seperti tata cara memandikan, mengkafani, mensholati, dan mengubur serta mengurusi hal-hal yang berkaitan dengannya. Bahkan Islam juga telah mengatur ketentuan yang wajib dikerjakan oleh orang yang sedang sakit hingga ajal datang, ketentuan bagi kerabat orang yang meninggal, ta’ziyah serta ziarah kubur.

Modul ini akan mengkaji bagaimana penyelenggaraan jenazah sesuai dengan hukum Islam dalam pengurusan jenazah.

KEGIATAN BELAJAR KE 4 s.d 5

A. Takziah dan ziarah kubur

Akar kata takziah adalah al-’aza’ yang berarti sabar. Takziah diartikan sebagai berkunjung dan berucap kepada orang yang mendapat musibah karena ada anggota keluarganya yang meninggal. Kunjungan dan ucapan itu dimaksudkan untuk menghibur dan menyabarkan penerima musibah, meringankan kesusahannya, serta mengurangi rasa sedihnya dalam menghadapi musibah itu.

Tujuan takziah adalah agar keluarga yang ditinggalkan tidak meratapi kematian dan musibah yang diterimanya. Selain itu, takziah juga merupakan mau’izah atau nasihat bagi pelaku takziah agar mengingat kematian dan bersiap-siap mencari bekal hidup di akhirat. Maut datang tanpa memandang umur dan waktu.

Hukum takziah adalah sunah. Menurut Imam nawani, Hanbali, dan Sufyan As-Sauri, takziah disunahkan sebelum jenazah dikubur dan tiga hari sesudahnya. Imam Hanafi berpendapat, takziah disunahkan sebelum jenazah dikuburkan. Sayid Sabbiq, tokoh pembaru Islam menyebut, takziah bisa dilakukan sesudah 3 hari apabila dalam waktu 3 hari si pentakziah atau yang ditakziahi tidak ada.

Dasar takziah adalah hadis riwayat Ibnu Majah dan Al-Baihaki dari Amr bin Hazm, sahabat Nabi SAW: Orang Mukmin yang yang bertakziyah kepada saudaranya, Allah akan memberikan pakaian di hari kiamat, pakaian kemuliaan. Ia disunahkan satu kali dan soyogyanya takziah dilakukan kepada semua keluarga si mati dan kerabatnya, baik yang besar, yang kecil, laki-laki, dan perempuan.

Sabda Nabi Muhammad saw. Yang artinya :

Dari Abu Hurairah RA, Rasulallah bersabda, barang siapa yang takziah hingga dishalatkan, maka ia mendapat pahala satu qirat, dan barang siapa yang menghadirinya samai dikuburkan, maka baginya mendapat pahala dua qirat. Ketika Rasulallah saw. Ditanya sahabat apakah dua qirat itu? Beliau menjawab, laksana dua bukit besar. ” H.R. Bukhari dan Muslim).

Adab-adab takziah :

* Hendakanya didasari dengan niat ikhlas.
* Berpakaian yang sopan dan menutup aurat.
* Bersikap serta bertingkah laku yang baik.
* Berdo’a agar jenazah diampuni dosanya dan dirahmati Allah swt.
* Memberikan bantuan uang atau lainnya.
* Mengingatkan keluarga tentang hutang-piutang dan yang lainnya.

a. Ziarah Kubur

Pengertian ziarah kubur adalah suatu kegiatan atau aktivitas mengunjungi makam dari orang yang telah meninggal dunia baik yang dulu semasa hidupnya kita kenal maupun yang tidak kenal. Pada saat berziarah ke kuburan sebaiknya anda mengikuti tata cara yang baik agar mendatangkan hikmah bagi yang berziarah maupun yang diziarahi.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian. Karena ziarah kubur akan mengingatkan kepada akhirat. Dan hendaklah berziarah itu menambah kebaikan buat kalian. Maka barangsiapa yang ingin berziarah silakan berziarah dan janganlah kalian mengatakan perkataan yang bathil (hujran).” (HR. Muslim, Abu Dawud, Al Baihaqi, An Nasa’i, dan Ahmad)

Do’a ketika masuk ke area pekuburan :

Semoga keselamatan tercurah bagi para penghuni kuburan ini dari kalangan Mukminin dan Muslimin. Dan semoga Allah merahmati orang yang terdahulu dan orang yang belakangan dari kita. Dan kami Insya Allah akan menyusul kalian.” (HR. Muslim, An Nasa’i, Abdurrazzaq, dan Ahmad)

b. Adab Dalam Berziarah Kubur yang Baik dan Benar Menurut Islam :

* Berperilaku sopan dan ramah ketika mendatangi areal pemakaman.
* Niat dengan tulus dan ikhlas karena ingin mendapatkan Ridho dari Allah SWT,
* Bukan untuk meminta sesuatu pada orang yang sudah meninggal.
Tidak duduk, menginjak-injak, tidur-tiduran, dll di atas makam orang mati
* Tidak melakukan tindakan tidak senonoh seperti buang air besar, kencing, meludah, melakukan hubungan suami isteri, buang sampah sembarangan, dan lain-lain.
* Mengucapkan salam kepada penghuni alam kubur
* Mendoakan arwah orang yang telah meninggal agar bahagia dan tenang di alam kubur sana dengan ikhlas.

c. Tujuan ziarah Kubur :

Ziarah kubur memiliki dua tujuan, yaitu :

1. Pertama, penziarah mengambil manfaat dengan mengingat mati dan orang yang mati. Dan tempat mereka ke Surga atau ke neraka.
2. Kedua, si mayit mendapat kebaikan dengan perbuatan baik dan salam untuknya serta mendapat doa permohonan ampunan. Dan ini khusus untuk mayat yang Muslim. (Ahkamul Janaiz halaman 239)

d. Do’a-do’a ziarah kubur :

Ada beberapa doa yang shahih yang dituntunkan untuk diucapkan ketika berziarah ke kubur, namun kami cukupkan dengan menyebutkan dua saja di antaranya :

Artinya :

“Semoga keselamatan tercurah bagi kalian wahai penghuni tempat kaum Mukminin. Kami dan kalian serta apa yang dijanjikan besok adalah orang yang ditangguhkan. Dan kami insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah ampunilah penghuni kubur … .” (HR. Muslim, Nasa’i, dan lain-lain)

Artinya :

“Semoga keselamatan tercurah kepada penghuni kubur ini dari kalangan Mukminin dan Muslimin dan semoga Allah merahmati orang yang telah duluan dari kami dan yang belakangan dan kami insya Allah akan menyusul kalian.” (HR. Muslim dan lain-lain)

(Lihat Ahkamul Janaiz halaman 239-240)

e. Ziarah kubur memiliki banyak hikmah dan manfaat, diantara yang

terpenting adalah:

Pertama: Ia akan mengingatkan akherat dan kematian sehingga dapat memberikan pelajaran dan ibrah bagi orang yang berziarah. Dan itu semua tentu akan memberikan dampak positif dalam kehidupan, mewariskan sikap zuhud terhadap dunia dan materi.

Kedua: Mendo’akan keselamatan bagi orang-orang yang telah meninggal dunia dan memohonkan ampunan untuk mereka.

Ketiga: Termasuk mengamalkan dan menghidupkan sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.

Keempat: Untuk mendapatkan pahala dan balasan kebaikan dari Allah dengan ziarah kubur yang dilakukan.

Hikmah ziarah kubur ini juga tertuang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” Dulu aku melarang kalian semua berziarah kubur, maka (sekarang) ziarahilah ia.” Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Karena sesungguhnya ia mengingatkan kepada kematian, dan dalam riwayat At Tirmidzi: “Karena sesungguhnya ia mengingatkan kepada akherat. ”

B. PENYELENGGARAAN JENAZAH

Ketika seorang muslim/muslimah meninggal dunia, wajib hukumnya menyelenggarakan jenazah. Kewajiban tersebut merupakan wajib kifayah.Adapun kewajiban kaum muslimin terhadap jenazah ada empat, yaitu: 1. Memandikan 2.Mengafani 3.Menyalatkan 4. Menguburkan.

a. Memandikan

Syarat-syarat jenazah yang harus dimandikan:

1. Muslim/muslimat
2. Anggota badan masih ada walaupun sebagian
3. Matinya bukan mati syahid
4. Pernah hidup walaupun sebentar.

Alat-alat yang diperlukan dalam memandikan jenazah :

1. Sediakan tempat mandi.
2. Sabun mandi.
3. Air daun bidara.
4. Air bersih.
5. Sugi – 7 batang.
6. Sarung tangan – 3 atau 5.
7. Sedikit kapas.
8. Air kapur barus.

b. Cara Memandikan Jenazah

1. Letakkan mayat di tempat mandi yang disediakan.
2. Tutup seluruh anggota mayat kecuali muka.
3. Semua Bilal hendaklah memakai sarong tangan sebelah kiri.
4. Sediakan air sabun.
5. Sediakan air kapur barus.
6. Istinjakkan mayat terlebih dahulu.
7. Angkat sedikit bahagian kepalanya sehingga paras dadanya.
8. Mengeluarkan kotoran dalam perutnya dengan menekan atau mimicit-micit perutnya secara perlahan-lahan dan hati serta kotoran dalam mulutnya dengan menggunakan kain alas atar tidak tersentuh auratnya.
9. Siram dan basuh dengan air sabun.

10. Kemudian gosokkan giginya, lubang hidung, lubang telinga, celah ketiaknya, celah jari tangan dan kakinya dan rambutnya.

11. Selepas itu siram atau basuh seluruh anggota mayat dengan air sabun juga.

12. Kemudian bilas dengan air yang bersih seluruh anggota mayat sambil berniat :

Lafaz niat memandikan jenazah lelaki :

نَوَيْتُ الْغُسْل ِلِهَذَاالْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Niat saya memandikan jenazah (laki-laki) kerana Allah Taala”

Lafaz niat memandikan jenazah perempuan :

نَوَيْتُ الْغُسْل ِلِهَذَهِ الْمَيِّتَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Niat saya memandikan jenazah (perempuan) kerana Allah Taala”

13. Telentangkan mayat, siram atau basuh dari kepala hingga hujung kaki 3 kali dengan air bersih.

14. Siram sebelah kanan 3 kali.

15. Siram sebelah kiri 3 kali.

16. Kemudian mengiringkan mayat ke kiri basuh bahagian lambung kanan sebelah belakang.

17. Mengiringkan mayat ke kanan basuh bahagian lambung sebelah kirinya pula.

18. Telentangkan semula mayat, ulangi menyiram seperti bil. 13 hingga 17.

19. Lepas itu siram dengan air kapur barus.

20. Lepas itu wudukkan mayat.
Lafaz niat mewudukkan jenazah lelaki :

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِهَذَاالْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Sahaja aku berniat mewudukkan jenazah (lelaki) ini kerana Allah s.w.t”

Lafaz niat mewudukkan jenazah perempuan :

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِهَذَهِ الْمَيِّتَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Sahaja aku berniat mewudukkan jenazah (perempuan) ini kerana Allah s.w.t”

21. Siram dengan air sembilan.

22. Setelah selesai dimandikan dan diwudukkannya dengan baik dan sempurna hendaklah dilapkan menggunakan tuala pada seluruh badan mayat.

23. Cawatkan bahagian kemaluan mayat dengan cawat yang disediakan.

24. Lepas itu usung dengan menutup seluruh anggotanya.

25. Segala apa-apa yang tercabut dari anggota mayat, hendaklah dimasukkan ke dalam kapan berama (Contoh : rambut, kuku dll).

26. Dengan ini selesailah kerja memandikan mayat dengan sempurnanya.

c. Mengafani Jenazah

Disunatkan bagi jenazah laki-laki dgn tiga lapis kain tanpa baju dan surban. Masing-masing lapis menutupi seluruh jenazah. Cara memakaikannya kain kafan dihamparkan sehelai-sehelai dan ditaburkan harum-haruman. Kemudian jenazah diletakkan diatasnya. Kedua tangannya diletakkan diatas dadanya

Disunatkan bagi jenazah wanita dikafani dengan lima lembar kain yaitu basahan,baju, tutup kepala,cadar dan kain yang menutupi seluruh tubuhnya. Cara memakaikannya dihamparkan kain untuk membungkus seluruh tubuh,diberi harum-haruman, kemudian jenazah dibungkus seluruh tubuhnya dengan kain pembungkus

Cara-cara mengkafankan jenazah
Pertama :
Hendaklah disediakan tiga lembar kain kafan dibentangkan dengan disusun, kain yang paling lebar diletakkan di bawah atau dengan cara kain tiga lembar dibentangkan dan letaknya agak serong yang atas melebar dan yang bawah mengecil, setiap lembar disapu dengan wangi-wangian atau minyak wangi yang tidak mengandungi alkohol.
Kedua : Hendaklah disediakan tali pengikat sebanyak tiga atau lima utas yang diletakkan di bawah kain kafan tersebut.
Ketiga :
Hendaklah disediakan kapas yang disapu dengan wangi-wangian dan kayu cendana yang digunakan untuk menutup antara lain :
1. Kemaluan
2. Wajah (muka)
3. Kedua buah dada
4. Kedua Telinga
5. Kedua siku tangannya
6. Kedua tumitnya
Keempat :
Angkatlah mayat tersebut dengan berhati-hati kemudian baringkan di atas kain kafan yang sudah dibentangkan.
Kelima : Tutupkan jenazah itu dengan kapas yang telah disediakan pada bahagian-bahagian yang telah disebutkan di atas.
Keenam :
Hendaklah kain kafan tersebut diselimutkan atau ditutupkan dari lembar yang paling atas sampai lembar yang paling bawah, kemudian ikatlah dengan tali daripada kain yang telah disediakan sebanyak tiga atau lima ikatan.

Semua tali pengikat mayat hendaklah disimpul hidup di sebelah kiri. Sebelum diikat di bahagian kepala, benarkan warisnya melihat atau menciumnya.
Tulislah kalimah “ALLAH dan MUHAMMAD” di dahi mayat dengan menggunakan minyak wangi.

Setelah siap diikat renjislah dengan air mawar dan sapulah minyak wangi.

d. Menshalatkan Jenazah

1.Syarat shalat jenazah

* Menutup aurat,suci dari hadats kecil dan besar, bersih pakaian ,tempat dari najis, menghadap kiblat.
* Jenazah telah dimandikan dan dikafani
* Letak jenazah didepan orang yang menshalatkan, kecuali shalat gaib.

2. Rukun Shalat Jenazah

1. Niat
2. Berdiri bagi yang mampu
3. Takbir 4X
4. Membaca surat Al Fatihah
5. Membaca shalawat Nabi
6. Mendoakan Jenazah
7. Memberi salam

Dalam mengerjakan solat jenazah, yang paling utama ialah dikerjakan secara berjemaah dan harus dijadikan tiga saf (barisan) sekurang-kurangnya setiap satu saf dua orang.

Bagi orang perempuan diperbolehkan mengikuti berjemaah bersama-sama dengan orang lelaki atau boleh mendirikan solat ke atas jenazah setalah disolatkan oleh orang lelaki.

1. Cara mengerjakan Solat Jenazah

* Bagi jenazah lelaki, Imam yang akan mendirikan solat ke atasnya hendaklah berdiri searah dengan kepala jenazah itu.
* Bagi jenazah perempuan, Imam hendaklah berdiri searah dengan lambung atau bahagian tengah jenazah itu.
* Tentang tempat untuk mengerjakan solat jenazah, diperbolehkan di dalam masjid, di surau atau di tempat lainnya yang memungkinkan solat berjemaah dengan syarat tempatnya itu luas dan bersih.

Lafaz niat solat jenazah :
a. Lafaz niat untuk mayat perempuan bagi Imam.

اُصَلِى عَلىَ هَذَهِ الْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ اِمَامًا لِله تَعَالىَ اَلله اَكْبَرُ.

“Sahaja aku berniat mendirikan solat ke atas jenazah(perempuan) ini dengan empat takbir fardhu kifayah menjadi Imam kerana Allah Taala”

b. Lafaz niat untuk mayat lelaki bagi Makmum

اُصَلِى عَلىَ هذَ االْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا لِله تَعَالىَ اَلله اَكْبَرُ.

“Niat saya menyolatkan ini mayit laki-laki empat takbiran fardhu kifayah makmum karena Allah Ta’ala”

c. Lafaz niat untuk jenazah perempuan bagi Makmum

اُصَلِى عَلىَ هذِهِ الْمَيِتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا لِله تَعَالىَ اَلله اَكْبَرُ.

“Niat saya menyolatkan ini mayit perempuan empat takbiran fardhu kifayah makmum karena Allah Ta’ala”

d. Lafaz niat untuk mayat anak laki-laki bagi Makmum

اُصَلِى عَلىَ هذَ االْمَيِّتِ الطّفْلِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا لِله تَعَالىَ اَلله اَكْبَرُ.

“Niat saya menyolatkan ini mayit anak laki-laki empat takbiran fardhu kifayah makmum karena Allah Ta’ala”

e. Lafaz niat untuk mayat anak perempuan bagi Makmum

اُصَلِى عَلىَ هذَهِ االْمَيِّتَةِ الطّفْلَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا لِله تَعَالىَ اَلله اَكْبَرُ.

“Niat saya menyolatkan ini mayit anak perempuan empat takbiran fardhu kifayah makmum karena Allah Ta’ala”

3. Sunat Shalat jenazah

1. Mengangkat tangan pada setiap takbir
2. Merendahkan suara bacaan
3. Membaca Taawudz
4. Disunatkan banyak pengikutnya.
5. Memperbanyak shaf.

e. Menguburkan jenazah

Tata cara menguburkan jenazah

1. Dibuat liang lahad sepanjang badan jenazah, dalamnya kira-kira satu

meter. Didasar lubang dibuat miring lebih dalam kearah kiblat

2. Ketika meletakan jenazah hendaknya dibacakan lafal

“Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah SAW”.

3. Tali-tali pengikat kain dilepas, pipi kanan dan ujung kaki ditempelkan

pada tanah.

4. Jenazah ditutup dengan papan/kayu lalu ditimbun tanah

5. Menyiram dengan air diatas tanah kubur

6. Mendoakan dan memohon ampun.
TOBAT DAN RAJA’
24 November 2009 pukul 9:54 pm | Ditulis dalam Modul PAI SMK | Tinggalkan sebuah Komentar

Materi Pelajaran PAI Kelas XI Semester 1

A. Bertobat .

Artinya : “Sesungguhnya Allah itu menyukai orang-orang yang tobat kepada-Nya dan dia menyukai orang-orang yang membersihkan diri.” (QS Al Baqarah : 222)

Tobat adalah proses menyadari kesalahan yang telah diperbuat dan berupaya sekuat hati untuk tidak melakukannya kembali atau permohonan ampun kepada Allah SWT atas kesalahan (kekhilafan) dan atas perbuatan dosa yang telah dilakukannya (keterangan selanjutnya lihat QS An Nur ; 31, Ali Imran : 90, An Nisa : 110, Al Maidah : 34 dan At Tahrim :

Hadis nabi Muhammad SAW yang artinya : “Sesungguhnya Allah menerima tobat hambanya selagi ia belum tercungak-cungak hendak mati (nyawanya berbalik-balik dikerongkongan).” (HR Ahmad)

1. Kesalahan atau kekhilafan yang dilakukan terhadap orang lain, diantaranya seperti hal-hal berikut.

1. Tidak memuliakan anak yatim piatu, tidak menganjurkan dan memberi makan orang miskin, memakan harta dengan mencampuradukkan yang hak dengan yang bathil dan mencintai harta yang berlebihan (lihat QS Al Fajr: 15-20)
2. Bakhil, merasa tidak cukup dan mendustakan pahala yang baik (lihat QS Al Lail : 1-13)
3. Mengumpat, mencela, prasangka dan olok-olok (lihat QS Al humazah : 1, dan Al Hujurat : 11-13)
4. Tidak melaksanakan rukun Islam, terutama mendirikan salat

Lanjutkan membaca TOBAT DAN RAJA’…
HUSNUZHZHAN(prasangka positif).
19 Oktober 2009 pukul 12:03 am | Ditulis dalam Modul PAI SMK | Tinggalkan sebuah Komentar

Materi Pelajaran PAI SMK Kelas X Semester 1

A. Husnuzhan kepada Allah dan Sabar Menghadapi CobaanNya

Husnuzhan artinya berprasangka baik. Sedangkan huznuzhan kepada Allah SWT mengandung arti selalu berprasangka baik kepada Allah SWT, karena Allah SWT terhadap hambanya seperti yang hambanya sangkakan kepadanya, kalau seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah SWT maka buruklah prasangka Allah kepada orang tersebut, jika baik prasangka hamban kepadanya maka baik pulalah prasangka Allah kepada orang tersebut.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari mempertegas hal ini:

Orang yang berprasangka baik kepada Allah tentu meiliki akhlak yang baik (sifat terpuji). Akhlak yang baik merupakan modal yang lebih berharga dibanding dengan modal harta kekayaan. Selain itu akhlak mulia dapat meninggikan derajat dan martabat di hadapan manusia, sekaligus menyempurnakan iman dan mendekatkan hubungan kita kepada Allah. Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya mengingatkan kepada kita:

اَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خَلْقًا ( رواه الترمذى)

Artinya: “Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Tirmidzi)

Itulah pentingnya pembinaan akhlak yang baik. Sehingga ketika Rasulullah SAW menjawab pertanyaan dari seorang badui pada suatu hari tentang pekerjaan yang mulia, apakah pekerjaan yang terkait diberikan oleh seorang manusia, maka beliau menjawab, bahwa pekerjaan yang mulia dan terbaik diberikan oleh seorang manusia adalah “akhak yang mulia”.

Rasulullah sendiri bersikap dan ber akhlakul mahmudah (akhlak mulia) sepanjang hidupnya. Sehingga beliau pernah memberikan penghargaan tersendiri kepada pengikutnyta yang berakhlak baik. Misalnya, suatu ketika Rasulullah diberi tahu bahwa seorang perempuan bernama Fulanah rajin shalat, puasa, dan sedekah, tetapi suka menyakiti tetangga dengan mulutnya. Apa kata Rasulullah? “ia akan masuk surga.”

Diantara akhlak terpuji yang dicontohkan Rasulullah ialah bahwa dia memiliki sifat sabar dalam kehidupannya. Sabar artinya orang yang mampu menahan diri atau mampu mengendalikan nafsu amarah. Sabar juga sering disebut dengan kemampuan seseorang dalam menahan emosi.

Sebenarnya orang yang sabar ialah orang yang keras, yaitu keras dalam menguasai nafsu amarah.

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرْعَةِ . اِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ ( رواه متفق عليه)

Artinya: “Bukan ukuran kekuatan seseorang itu dengan bergulat, tetapi yang kuat ialah orang yang menahan hawa nafsunya pada waktu marah” (HR Muttafaqu Alaihi)

Orang yang sabar bila menerima musibah, ia akan mampu mengendalikan perasaannya. Sehingga ia tidak terhanyut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Apalagi jika seseorang itu menyadari segala musibah dan cobaan itu datangnya dari Allah juga.

Adapun sabar dalam pengertian Islam ialah tahan uji dalam menghadapi suka dan suka hidup, dengan ridha dan ikhlas serta berserah diri kepada Allah. Sabar itu diperintahkan dalam agama. Dalam Al Qur’an disebutkan:

Hidup di dunia tidak luput dari berbagai cobaan. Cobaan itu bisa berupa kesenangan dan kesusahan, sehat dan sakit, serta suka dan duka. Adakalanya hal itu dialami diri sendiri, keluarga, sahabat dan sebagainya.

Apa yang dialami manusia itu semua datangnya dari Allah dan merupakan ujian hidup. Berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam hidupm ini akan menambah keimanan kita apabila kita ikhlas menerimanya. Allah SWT menggambarkan dalam Al Qur’an berbagai macam cobaan yang akan dialami manusia serta bagaimana seharusnya sikap manusia dalam menerima cobaan tersebut.(lihat Al-Qur’an Online di google)

Artinya: “155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.” (QS Al Baqarah : 155-156)

Pada hakikatnya, apapun yang kita alami terhadap cobaan yang diberikan Allah, kita harus berbaik sangka. Misalnya, cobaan sakit, keluarga kita ada yang mengalami kecelakaan lalu lintas, semua itu adalah cobaan dan kita harus tabah dan tawakal menghadapinya. Karena semakin sayang Allah kepada seorang hambanya maka Allah akan menguji orang tersebut dengan cobaan yang lebih besar, sehingga kadar keimanannya bertambah pula. Bila ia dapat bersabar menerima cobaan yang Allah berikan maka Allah akan memberikan ganjaran yang sangat mulia yaitu mendapatkan surganya Allah SWT seprti yang diuraikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari:

Artinya :Dari Anas bin Malik, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Apabila Aku menguji hambaku dengan kedua kesayangannya lalu ia bersabar maka Aku menggantikannya dengan sorga”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Cara Membiasakan Diri Bersikap Sabar

a. Zikrullah (Mengingat Allah)

Firman Allah dalam surat Ar Ra’du ayat 28 menjelaskan sebagai berikut: (lihat QS.Online di google)

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar Ra’du : 28)

Dalam ayat lain Allah menybutkan: (lihat QS.Online di google)

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya (QS Al Ahzab : 41)

Zikir bisa melalui pengucapan lisan dengan memperbanyak menyebut asma Allah. Tetapi, zikir juga bisa dilakukan dengan tindakan merenung dan memperhatikan kejadian di sekeliling kita dengan tujuan menarik hikmah. Sehingga akhirnya sadar bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah juga. Orang yang sabar selalu mengingat Allah dan menyebut asama Allah apabila menghadapi kesulitan dan musibah, bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bila seseorang berzikir dan membaca Al Qur’an hingga ia lupa untuk meminta sesuatu kepada Allah maka Allah akan memberikan nikmat kepadanya melebihi apa yang sebelumnya ia inginkan

Artinya :Dari Abu Sa’id Al Khudri ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfinnan : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya“. (Hadits ditakhrij oleh Turmudzi).

b. Mengendalikan Emosi

Agar seseorang bisa berbuat sabar, maka harus berlatih mengendalikan emosi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam melatih mengendalikan nafsu atau emosi ini:

1. Melatih serta mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an, shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Seseorang tidak akan terus melampiaskan berang atau kemarahannya apabila ayat suci Al Qur’an dibaca. Oleh karena itu, bukan hal yang aneh apabila ayat suci Al Qur’an bisa digunakan untuk melerai orang yang bertikai. Demikian pula Rasulullah SAW memberikan resep bagaimana caranya meredam amarah. “Berwudu’lah!” Demikian anjuran Rasulullah SAW.
2. Menghindari kebiasaan-kebiasaan yang dilarang agama. Orang yang mampu menghindarkan diri dari kebiasaan yang dilarang agama, akan membuat hidupnya terbiasa dengan hal-hal yang baik dan tidak mudah melakukan perbuatan-perbuatan keji. Orang yang tidak sabar, pada umumnya adalah orang yang tidak perduli, bersikap kasar, berbuat keji misalnya berjudi, minum-minuman keras, berkelahi, mengeluarkan kata-kata kotor, menyebarkan fitnah dan masih banyak lagi.
3. Memilih lingkungan pergaulan yang baik. Agar bisa menjadi manusia yang memiliki sifat sabar, maka bisa diperoleh dengan memasuki lingkungan pergaulan yang baik, yang cinta akan kebenaran, kebaikan, dan keadilan.

Gigih, Berinisiatif, dan Rela Berkorban

1. Gigih

Gigih berarti berkemauan kuat dalam usaha mencapai sesuatu cita-cita. Gigih sebagai salah satu dari akhlakul karimah sangat diperlukan dalam suatu usaha. Jika ingin mencapai suatu hasil yang maksimal, suatu usaha harus dilakukan dengan gigih, dan penuh kesungguhan hati. Seorang pelajar harus gigih dalam belajar guna mencapai prestasi yang optimal. Disamping gigih dalam belajar, pelajar hjuga harus gigih dalam berbagai kebaikan seperti membantu kedua orang tua menurut kadar kemampuannya. Islam mencela setiap muslim yang lemah semangat, merasa tidak berdaya seakan tidak memiliki gairah hidup. Tak satu usahapun yang tidak memerlukan kegigihan, walau kadarnya berbeda. Setiap muslim wajib memilki sifat dan sikap gigih. Gigih (sungguh-sungguh) dalam beribadah, gigih dalam mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidup. Allah SWT berfirman: (lihat QS.Online di google)

Artinya: “ Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS Alam Nasrah : 7)

Sementara itu Rasulullah SAW bersabda:

اَلْمُؤْمِنُُ الْقَوِيُ خَيْرٌ وَ اَحَبُّ اِلى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَ فِى كُلِّ خَيْرٌ اِخْرِصْ عَلى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَ لاَ تَعْجِرْ … (رواه مسلم)

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih bagus adn lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi kamu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa tak berdaya …” (HR Muslim)

Orang yang gigih tidak akan berpangku tangan dan tidak suka bermalas-malasan sehingga ia akan merasa keberkahan hidup. Apabila setiap orang Islam memiliki sifat gigih, niscaya hidayah dan karunia Allah akan menaungi kita. Gigihlah dalam berusaha, Allah dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan kita, sehingga tidak akan ada usaha kita yang sia-sia.

2. Berinisiatif

Berinisiatif artinya senantiasa berbuat sesuatu yang sifatnya produktif. Berinisiatif menuntut sikap bekerja keras dan etos kerja yang tinggi. Perhatikan firman Allah berikut ini. (lihat QS.Online di google)

Artinya: “39. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, 40. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). 41. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (QS An Najm : 38-41)

Kemudian surat Alam Nasrah ayat 1-8 berikut ini. (lihat QS.Online di google)

Artinya: “1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, 2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, 3. yang memberatkan punggungmu? 4. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, 5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 6. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, 8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. “ (QS Alam Nasrah : 1-8)

Renungkanlah ayat diatas. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat yang produktif. Artinya fokuskan pada satu pekerjaan, jika telah selesai kerjakan yang lain. Tentu tidak hanya kerja keras saja melainkan dengan ketekunan, ketelitian, penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, senantiasa mengefisienskan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan atau permasalahan. Cara dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut diatas disebut produktivitas kerja. Senantiasa menghasilkan etos kerjanya untuk menghasilkan yang lebih baik.

Contoh produkitivitas kerja

Arif hampir setiap hari mempersiapkan diri belajar untuk meraih cita-cita melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Ia selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar dan membantu orang tua. Kunci utama inisiatif Arif adalah pengaturan waktu. Ia bisa membagi waktu kapan harus belajar dan harus bermain. Akhirnya ia dapat lulus masuk ke perguruan tinggi yang dicita-citakannya.

Contoh lain: Pak Budiman adalah seorang walikelas di sebuah SMK. Walaupun beliau sibuk mengajar namun bisa membagi waktunya untuk kepentingan kelasnya. Hal itu karena ia bisa mendata dan menentukan hal yang harus didahulukan kemudian dikerjakan dengan tekun dan teliti. Sehingga sebanyak apapun beban pekerjaan yang dialami Pak Budiman ia dapat menyelesaikannya dengan baik.

Kesimpulan dari contoh diatas adalah kerja keras itu bukan hanya gigih dan semangat tinggi. Berinisiatif adalah usaha yang menghasilkan dengan pengaturan waktu yang baik dan terencana.

3. Rela Berkorban

a. Makna Rela Berkorban

1) Pengertian rela berkorban

Rela berarti bersedia dengan ikhlas hati, tidak mengharapkan imbalan atau dengan kemaun sendiri. Berkorban berarti memiliki sesuatu yang dimiliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Rela berkorban dalam kehidupan masyarakat berati bersedia dengan ikhlas memberikan sesuatu (tenaga, harta, atau pemikiran) untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Walaupun dengan berkorban akan menimbulkan cobaan penderitaan bagi dirinya sendiri.

2) Pola keikhlasan dalam berbagai lingkungan kehidupan

Setiap orang atau setiap individu mempunyai kepentingan sendiri sesuai dengan keperluannya. Jika setiap orang hanya mengejar kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan orang lain, akan terjadi perselisihan dan pertengkaran dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim yang memiliki kepribadian luhur, wajib mengendalikan siri dalam sikap dan perbuatannya demi kepentingan umum. Kepentingan umum atau masyarakat harus didahulukan dari pada kepentingan pribadi atau individu. Disinilah perlunya kita memiliki keikhlasan berkorban demi kepentingan yang lebih luas. Kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

a) Pola keikhlasan berkorban dalam lingkungan keluarga, antara lain ;

1) Orang tua memberikan biaya untuk sekolah anak-anaknya

2) Orang tua memelihara, mengasuh, dan mendidik anak-anaknya

b) Pola keihklasan berkorban dalam lingkungan kehidupan sekolah, antara lain:

1) Para siswa memberikan sumbangan buku perpustakaan sekolah

2) Para siswa dan guru mengumpulkan dana sukarela untuk meringankan beban warga yang tertimpa musibah

c) Pola keikhlasan berkorban dalam lingkungan kehidupan masyarakat, antara lain:

1) Warga masyarakat bergotong royong meperbaiki bendungan yang rusak karena banjir

2) Warga masyarakat yang mampu menjadi orangtua asuh bagi anak-anak yang terlantar dan tidak mampu

d) Pola keikhlasan berkorban dalan lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara, antara lain:

1) Para warga negara atau masyarakat membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seperti pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan

2) Warga masyarakat merelakan sebagian tanahnya untuk pembangunan irigasi dengan memperoleh penggantian yang layak

b. Mengembangkan semangat rela berkorban dalam kehidupan bermasyarakat

Kita harus selalu mengembangkan semangat rela berkorban dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Misalnya sebagai berikut.

1. Ketika zaman penjajahan belanda. Penderitaan bangsa Indoneisa berada pada level yang sangat tinggi dari para penjajah. Penderitaan yang sangat hebat ini melahirkan tekad untuk mengusir penjajah dari tanah air Indonesia. Untuk mewujudkan tekad itu, nagsa Indonesia rela berkorban melawan penjajah. Semangat berjuang dan rela berkorban itu akhirnya membuahkan hasil Proklamasi Kemerdekaan17 agustus 1945
2. Orang tua merelakan putranya berjuang untuk bangsa dan negaranya sesuai dengan bidang dan kemampuannya
3. Warga masyarakat rela berkorban tenaga, harta ataupun pikiran dalam membuat bendung, jalan kampung, dan kepentingan masyarakat lainnya

Sikap rela berkorban yang mulia itu wajib dikembangkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Menumbuhkembangkan semangat rela berkorban dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya, keteladanan (menjadi contoh), memberikan bimbingan, dan pembinaan kesadaran dalam keralaan berkorban.

c. Menampilkan Perilaku Rela Berkorban dalam Kehidupan Sehari-hari

Seorang muslim yang baik senantiasa mampu menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama. Ia sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan masyarakat, agama dan negaranya

Adapun sikap rela berkorban dakam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya sebagai berikut:

1. Selalu memperhatikan kepentingan umum, bangsa dan negara
2. Suka memberikan pembinaan yang baik kepada sesama
3. Gemar memberikan pertolonangan kepada sesama
4. Senantiasa menjauhkan diri dari perilaku angkuh, egois, hedonis dan materialistis

Perilaku egois adalah sikap perilaku yang hanya memetingkan diri sendiri. Perilaku hedonis adalah sikap perilaku yang hanya mengutamakan hidup untuk bersenang-senang. Perilaku materialistis adalah sikap perilaku yang hanya mementingkan kebendaan atau keduniaan saja

Sebagai pelajar, kita harus membiasakan sikap rela berkorban dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat, beragama, dan bernegara akan terwujud.

C. Sikap yang Benar terhadap Makhluk Hidup Selain Manusia

Binatang dan tumbuh-tumbuhan adalah makhluk hidup, keduanya perlu mempertahankan habitat dan populasinya. Keduanya perlu makan dan minum untuk menjaga keadaan dan lingkungannya serta mempertahankan keturunan dari jenisnya dengan bentuk dan tatacaranya yang berbeda dengan manusia

Keberadaan dan kelestarian binatang dan tumbuhan, memberikan arti penting dan manfaat yang besar bagi makhluk lainnya, termasuk manusia. Antara binatang dan tumbuh-tumbuhan serta manusia terdapat hubungan timbal balik, saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya. Hubungan timbal balik antara manusia dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan harus dijaga keseimbangan dan kesinambunganya. Apabila keseimbangan hubungan timbal balik antara ketiganya tidak terjaga maka akan menimbulkan kerusakan malahan bisa menjadi bencana.

Contoh akhlak yang baik dan terpuji terhadap binatang ialah membiasakan memelihara dan menyayangi binatang. Binatang itu mengandung manfaat yang besar sekali bagi manusia, baik untuk dimakan dagingnya, diminum air susunya, digunakan bulunya untuk pakaian, untuk alat angkutan dan sebagainya. Memang binatang itu diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia. Perhatikan firman Allah SWT: (lihat QS.Online di google)

Aritnya: ” 5. Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. 6. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. 7. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang 8. dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal[820] dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS An Nahl : 5-7)

Karena binatang itupun makhluk hidup yang bernyawa yang dapat merasakan lapar dan haus, sakit dan mati, maka kita tidak boleh menganiaya dengan cara apapun. Nabi bersabda: “Barangsiapa yang menganiaya binatang atau mengubah bentuknya, memotong ekor atau telinganya, amak atasnya kutukan alah, kutukan para malaikat, dan manusia pada umunya.” (Al Hadits)

Oleh karena itu, salah satu syarat menyembelih binatang yang akan dimakan dagingnya harus menggunakan alat penyembelih yang tajam, agar binatang yang disembelih itu segera mati dan tidak lama mengalami penderitaan.

Akhlak yang baik terhadap tumbuh-tumbuhan artinya akhlak manusia yang baik dan terpuji menurut pandangan syariat Islam tertuju kepada tumbuh-tumbuhan. Contoh akhlak yang baik yang baik terhadap tumbuh-tumbuhan ialah membiasakan memelihara dan melestarikan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan apa saja yang ada di bumi ini diciptakan oleh Allah untuk manusia, agar diambil manfaatny bagi kehidupan manusia. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an: (lihat QS.Online di google)

Artinya: “Ia (Allah) yang telah menjadkan segala apa yang ada di langit dan dibumi untuk kamu semua …”(QS Al Baqarah ; 29)

Dalam ayat lain: (lihat QS.Online di google)

Artinya: “Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan[765], Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS Ar Ra’du : 3)

Oleh karena itu, suatu kewajiban manusia agar bumi dan isinya, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan serta lingkungannya dapat kita sayangi dan dilestarikan dan memakmurkannya., bukan malah ditelantarkan dan diburu. Semua itu sebenarnya hanya untuk kepentingan manusia. Semua itu sebenarnya hanya untuk kepentingan manusia dan anak cucunya sampai akhir zaman. Firman Allah dalam surat Hud ayat 61: (lihat QS.Online di google)

Artinya: “…Dialah Allah yang menciptakan kamu dan ditempatkannya kamu mendiami bumi ini dengan tugas agar kamu dapat mengolah dan memakmurkannya …” (QS Hud : 61)

1. Memelihara Kelestarian Alam

Alam dan isinya diciptakan Allah untuk kepentingan manusia. Oleh karena itu, untuk kelangsungan serta kesempurnaan hidupnya, manusia berkewajiban menjaga kwantitas dan kwalitas lingkungan menimbulkan larangan adanya merusak lingkungan. Untuk meperbaiki kualitas hidup, manusia mengadakan usaha-usaha pembangunan yang mempunyai pengaruh terhadap kuantitas maupun kualitas lingkungan.

Disatu pihak, kita harus mengadakan pembangunan walaupun hal itu bisa merusak kualitas dan kuantitas lingkungan, tetapi di pihak lain pun kita harus mempertahankan lingkungan hidup. Misalnya untuk pembangunan kita memerlukan devisa dan untuk memperoleh debisa kita bisa menjual kayu yang diambil dari hutan. Apabila pengambilan kayu dari hutan tidak cermat dapat mengakibatkan kepunahan hutan maupun hewan-hewan penghuninya. Akibat yang ditimbulkannya sangat merugikan, bahkan mengancam kesejahteraan hidup manusia. Secara kronilogis dapat digambarkan sebagai berikut.

Apabila hutan dibabat dengan semena-mena maka tak ada lagi penahan air hujan. Air hujan akan mengalir keras dan menghanyutkan humus dan bunga tanah. Di hulu menjadi tandus, dihilir dilanda banjir. Akibatnya, hutan makin lama makin gundul, hujan menjadi jarang turun. Pada siang hari panas terik matahari membakar bumi, malam harinya sangat dingin. Karena perubahan suhu yang tajam, batu-batuan bisa pecah dan akhirnya lambat laun hancur jadi pasir. Jadi, padang pasir yang luas bukan terjadi dengan sendirinya. Pada mulanya terjadi karena kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia sendiri. Firman Allah SWT: (lihat QS.Online di google)

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar.”(QS Ar Rum : 41)

Kerusakan didarat seperti terjadinya padang pasir karena penggundulan hutan (tumbuh-tumbuhan), juga punahnya beberapa jenis binatang. Kerusakan dilaut seperti pencemaran oleh buangan air limbah industri, sehingga menyebabkan keracunan pada ikan yang menjadi sumber hidup para nelayan.

Membuat kerusakan baik didarat, dilaut maupun diudaraadalah perbuatan yang sangat tercela dalam agama, kerusakan yang terjadi dapat membahayakan hidup manusia. Al Qur’an memuat tidak kurang dari 50 kali ayat yang melarang berbuat kerusakan. (lihat QS.Online di google)

Artinya: “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS As Syu’ara : 183)

Kesimpulannya, dalam suatu lingkungan hidup itu ada saling ketergantungan antara makhluk hidup dengan benda-benda yang tidak hidup dan lingkungannya. Keadaan semacam itu disebut ekosistem. Dalam suatu ekosistem, masing-masing unsur yang ada harus dijaga kelestarian dan keseimbangannya. Artinya tidak boleh ada pengrusakan terhadap salah satu unsur. Sebab kalau salah satu unsur dalam ekosistem itu rusak, akan timbul keselarasan ekosistem atau terjadi ketidak seimbangan alam lingkungan.

Allah SWT menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Telah ditakdirkan dan ditentukan bahwa semua makhluk ciptaannya mempunya hubungan timbal balik dan berkesinambungan, itulah sunatullah. Firman Allah SWT dalam surat Ar Rahman ayat 5-13: (lihat QS.Online di google)

Artinya: “5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. 6. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada Nya. 7. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). 8. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. 9. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. 10. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). 11. Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang 12. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. 13. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?.” (QS Ar Rahman : 5-13)

Ayat diatas menggambrkan bahwa alam semesta yang terdir dari beribu-ribu galaksi, diantaranya bumi kita ini, semuanya mempunyai hubungan timbal balik dan daya tarik menarik antara satu dengan lainnya. Begitu pula apa yang ada di planet bumi. Lingkungan yang ada di dalamnya mempunyai daya tarik menarik dan hubungan timbal balik.

Apabila keseimbangan dalam hubungan timbal balik ini terganggu akibat salah satu unsurnya ada yang kurang, berubah, atau karena sebab lain maka malapetaka dan bencana yang maha dahsyat akan terjadi.

Memelihara Keseimbangan Alam sebagai Pernyataan Rasa Syukur Nikmat

Allah pencipta alam semesta telah menciptakan manusia sebagai makhluknya yang paling mulia. Allah juga yang telah menciptakan alam semesta ini, terutama bumi untuk kepentingan manusia. Bahkan Allah telah menjadikan manusia sebagai khalifah atau penguasa bumi. Dengan demikian sungguh banyak kenikmatan Allah yang telah dianugrahkan kepada manusia. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT: (lihat QS.Online di google)

Artinya: “32. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. 33. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. 34. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim : 32-34)

Betapa banyak nikmat Allah yuang telah diberikan kepada umatmanusia yang diterima oleh setiap orang dalam kehidupannya. Segala kelezatan ketentraman, kebahagian, kesenangan dan kenikmatan dalam bentuk apapun. Hal itu harus disyukuri. Setiap muslim wajib bersyukur atau berterima kasih kepada Allah sebagaimana diperintahkan dalam kitab suci Al Qur’an: (lihat QS.Online di google)

Artinya: “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS An Nahl : 14)

Adapun cara bersyukur kepada Allah adalah sebagai berikut.

1. Dengan lisan, yakni dengan memuji Allah setiap memperoleh kenikmatan. Caranya dengan mengucapkan alhamdulillahi rabbil alamin.
2. Dengan hati, yakni dengan mengakui dan merasakan serta menghayati nikmat Allah atas karunia yang telah diberikan
3. Dengan seluruh jiwa raganya, yakni dengan menaati dan menjalankan perintahnya, serta menjauhi larangannya.

Dengan bersyukur kepada Allah, manusia akan selalu ingat kepadanya, sehingga jiwanya menjadi bersih. Jiwa yang bersih karena menyadari bahwa segala kenikmatan itu hanyalah karunia Allah semata. Dengan demikian dapat menyadari bahwa segala kenikmatan itu adalah bekal untuk beribadah keapda Allah. Mengabdi dan menghambakan diri semata-mata kepada Allah. Perhatikan firman Allah berikut. (lihat QS.Online di google)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS Al Baqarah : 172)

2. Menyayangi Binatang dan Merawat Tumbuh-tumbuhan

a. Pentingnya binatang dan tumbuh-tumbuhan bagi kehidupan manusia

Binatang termasuk salah satu makhluk Allah SWT. Antara manusia dan binatang medasar. Manusia mempunyai akal pikiran sedangkan binatang tidak. Diluar kepentingan dan kemampuan akal pikiran itu terdapat persamaan antara manusia dan binatang. Seperti misalnya, kepentingan untuk makan, minum mempertahankan hidup dan keturunannya.

Kenyataannya manusia sangat membutuhkan keberadaan binatang, terutama binatang ternak. Diantara binatang tersebut, ada yang bisa dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan manusia seperti membajak dan bercocok tanam, menarik pedati dan memuat barang-barang, diambil madunya, diperah susunya, disembelih untuk dimakan dagingnya sebagai pelengkap menu dan menambah gizi makanan. Selain itu, binatang ternak juga mempunyai nilai tambah dalam segi ekonomi maupun segi penghidupan.

Sudah selayaknya kita memelihara dan menyayangi binatang. Suatu hal yang tidak wajar apabila kita memanfaatkan tenaga binatang, tetapi tidak mau memberi makan dan merawatnya. Seorang peternak burung puyuh umpamanya, tidak akan mendapat hasil yang baik, apabila burung puyuh itu tidak dipelihara dengan baik.

Coba renungkan ikan yang berada dilaut. Bermacam-macam warnanya, enak untuk dimakan. Ada yang digunakan untuk minyak, hiasan, obat, tergantung pada keterampilan manusia dalam mengolah ikan yang beraneka ragam itu. Sapi dan domba misalnya, susunya dapat diminum dan menyegarkan dan menguatkan badan manusia. Kulitnya dapat digunakan sebagai bahan sepatu dan sandal. Bulunya dapat digunakan untuk pakaian, sedang dagingnya enak untuk dimakan.

Binatang-binatang itu dapat diambil manfaatnya sesuai dengan slera dan keterampilan manusia didalam menggunakannya. Perkutut dapat dipelihara, dan suaranya bisa membuat hati manusia gembira dan senang. Sehingga perkutut yang kecil itu harganya ratusan ribu rupiah malah kadang-kadang samapi jutaan rupiah.

Tumbuh-tumbuhan juga tidak kalah penting bagi manusia dalam menunjang hidup dan kehidupannya, misalnmya sebagai berikut:

1. Oksigen merupakan kebutuhan yang sangat pokok dalam kehidupan manusia. Pada sistem pernapasan manusia, yang dibutuhkan adalah oksigen. Manusia akan mati lemas apabila kekurangan oksigen tersebut. Persediaan oksigen yang terdapat diudara disekeliling kita bisa terjamin keseimbangannya apabila terjamin pulapopulasi tumbuh-tumbuhan yang ada. Karena oksigen dikeluarkan oleh tumbuh-tumbuhan pada saat tumbuh-tumbuhna itu melakukan fotosintesis
2. Pohon dan tumbuh-tumbuhan yang lebat dapat menjamin adanya persedian air dalam tanah agar tidak terus mengalir tanpa ada tempat penampungannya. Persedian air dalam tanah oleh akar-akar pohon dan tumbuh-tumbuhan, bisa menjadi mata air. Mata air itu mengairi areal pertanian dan perkebunan, untuk menunjang kebutuhan bahan makanan pokok manusia.

Pohon dan tumbuh-tumbuhan yang lebat menjamin tidak akan terjadi banjir yang bisa merusak lingkungan kehidupan manusia. Dari tumbuh-tumbuhan pula bisa diperoleh vitamin nabati yang sangat dibutuhkan oleh sel-sel tubuh manusia. Tumbuh-tumbuhan dapat dibuat bahan obat-obatan yang menangkal manusia dari serangan berbagai penyakit, dan menyembuhkannya atas kuasa dan izin dari Allah SWT.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya bila manusia memelihara dan melestarikan tumbuh-tumbuhan. Diantara tumbuh-tumbuhan ada yang bisa dimakan dan ada yang tidak. Perawatan terhadap tumbuh-tumbuhan yang dimakan agak berbeda dengan tumbuh0tumbuhan lainnya. Ada diantaranya yang memerlukan air, pupuk, obat hama, dan sebagainya. Memang cara merawat dan apa yang diperlukan tumbuh-tumbuhan itu tidak sama. Kita pun harus mempelajari dan memperhatikan cara pemeliharaan masing-masing agar dapat diambil manfaatnya.

Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di muka bumi yang seharusnya memelihara dan mengatur dunia ini sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga dapat hidup layak sebagai manusia, janganlah berbuat kerusakan dimuka bumi karena itu termasuk perbuatan yang tidak disukai oleh Allah. Seperti dalam firmannya yang berbunyi: (lihat QS.Online di google)

Artinya: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al Qashash : 77)

b. Cara menyayangi binatang dan tumbuh-tumbuhan

Manusia wajib memelihara binatang dan tumbuh-tumbuhan dengan baik. Terhadap binatang ternak manusia harus memelihara, memberi makan dan minum, mejaga kondisi dan lingkungan serta kebutuhan hidupnya. Dengan demikian manusia dapat memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri. Kesemuanya harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Hal ini pernah dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW ketika beliau melewati suatu daerah. Beliau melihat ada orang-orang yang berdiri diatas punggung hewan-hewan mereka. Lantas beliau menasehati supaya mengendarai hewan itu dengan baik dan meninggalkannya dengan baik pula.

Terhadap binatang liar, manusai berkewajiban menjaga habitatnya agar tidak punah. Berusaha agar tidak merusak lingkungan tempat binatang-binatang liar itu hidup dan berkembang biak. Mengusahakan agar jenis binatang ini, terutama jenis binatang buas, tidak mengganggu terhadap lingkungan kehidupan manusia, bahkan banyak dikisahkan dalam alqur’an banyak binatang buas yang memberikan manfaat misalkan lebah yang bisa diambil madunya Allah berfirman: (lihat QS.Online di google)

Artinya: 68. dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, 69. kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS An Nahl : 68 – 69)

Terhadap tumbuh-tumbuhan, manusia wajib memelihara kelestarian, keberadaan, mengembangbiakkannya. Khususnya tanaman pertanian dan tanaman pangan serta tanaman lunak lainnya. Lahan tempat bercocok tanam perlu diolah dengan baik, dipupuki dan disiangi, dijauhkan dari hama. Mengusir hama dengan memberikan obat anti hama sehingga dapat meningkatkan hasil dan dapat mencukupi kebutuhan pangan.

Untuk tanaman keras, lahan yang digunakan harus dibersihkan dari tanaman dan tumbuhan lain yang bisa mengganggu perkembangannya. Memberikan pupuk yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman keras tersebut. Pada umumnya tanaman keras ditanam pada lahan perkebunan.

Tanaman dan tumbuh-tumbuhan hutan harus dijaga kelestariannya dan tidak dirusak untuk kepentingan pribadi dan sesaat. Perusakan hutan dapa mengakibatkan banjir dan tanah longsor.

Latihan :

A. Pilih satu jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini!

1. Seseorang yang memilki sifat husnuzhan berarti ia memilki sifat …

1. tercela
2. baik hati
3. terpuji
4. akhlakul karimah
5. buruk sangka

2. Lawan dari sipat Husnuzzan ialah…..

a. tercela

b. baik hati

c. terpuji

d. akhlakul karimah

e. buruk sangka

3. Sebaik-baik orang mukmin adalah orang yang …

1. baik badannya
2. baikperangainya
3. baik ucapannya
4. baik hatinya
5. baik akhlaknya

4. Menurut Rasulullah SAW orang yang kuat adalah kuat …

a. fisiknya

b. menahan emosinya

c. menahan nafsunya

d. menahan amarahnya

e. menahan kantuknya

5. Allah akan memberikan cobaan kepada manusia berupa…

1. ketakutan
2. kesenangan
3. keberuntungan
4. keindahan
5. kenikmatan

6. Kalimat ( اِنَّالِى اللهِ وَ اِنَّآ اِلَيْهِ رَاخِعُوْنَ ) diucapkan ketika ..

1. mendengar petasan
2. mendengar ledakan
3. melihat petir/kilat
4. terkena azab
5. tertimpa musibah

7. Orang-orang yang beriman akan tentran hatinya apabila mereka …

a. mendengar nyanyian

b. mendengar pujian

c. mendengar ucapan selamat

d. mengingat Allah

e. mengingat kekasihnya

8. Lanjutan hadits disamping adalah …طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلى كُلّْ …

a. وَالْمُؤْمِنَ

b. اَلْمُؤْمِنْ

c. مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ

d. وَالْمُسْلِمَةٌ

e. مُسْلِمَةٌ

9. Sikap rela berkorban dalam kehidupan masyarakat adalah …

a. memberikan barang bekas

b. ikut pertandingan olahraga antar kampung

c. memberikan sesuatu kepada seseorang

d. mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi

e. memberikan bungan untuk orang tua

10. Allah memerintahkan manusia untuk memakmurkan bumi, hal ini tercantum dalam surah …

a. Hud ayat 61

b. Ar Rum ayat 61

c. Hud ayat 16

d. Ar Rum ayat 16

e. Ad Dhuha ayat 5

11. Cara bersyukur kepada Allah dapat kita laksanakan dengan …

a. kakinya

b. jiwanyadalam

c. amal perbuatan

d. hati-hati

e. tangannya

12. Perbuatan yang disukai Allah dan yang diridai-Nya baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan maupun tersembunyi, pernyataan ini merupakan pengertian dari ….

a. ihsan

b. etos kerja

c. ibadah

d. amal saleh

e. tawakkal

13. Seorang yang beriman diperintahkan oleh Allah untuk mencari kebahagiaan

akhirat dan jangan lupakan bagian di dunia ini tercantum Al Qur’an suarat:

a. Al Jumu ‘ah : 10

b. Al Qasas : 77

c. Ali Imran : 102

d. An Najm : 39

e. Al Baqarah : 55

14. Prestasi kerja dan kemajuan akan lenih mudah diraih oleh seseorang, jika kita

melakukan…

a. Terobosan yang menguntungkan

b. Kekompakan dalam kelompok sosial

c. Bekerja keras dan mempunyai etos kerja

d. Berusaha menghalangi orang lain agar tidak maju

e. Memiliki relasi yang banyak

15. Cara-cara bekerja yang baik sebagai berikut, kecuali…..

a. adanya perhitungan yang matang

b. diniatkan sebagai bekal ibadah

c. sesuai dengan kemampuan atau profesi

d. memperhatikan waktu-waktu ibadah

e. diutamakan selesai dengan cepat

16. Hal yang terpenting dalam bekerja adalah ….

a. memperoleh hasil yang banyak

b. memperoleh hasil yang halal

c. jenis pekerejaan itu mudah

d. hemat tenaga

e. pekerjaan itu menyenangkan

17. Faktor yang dapat mendorong agar bekerja keras sebagai berikut, kecuali…

a. adanya perintah Allah dan Rasulnya

b. semboyan bahwa dunia itu ladang akhirat

c. takut menjadi pengemis

d. keinginan menjadi dermawan

e. keinginan untuk tidak menjadi beban orang lain

18. ayat ini bermakna…

a. Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu adan kemudahan

b. Tidakkah kami telah melapangkan dadamu

c. Dan kami buang darimu dosamu

d. Dan kami angkat ucapanmu

e. Apabila selesai suatu pekerjaan maka beralihlah ke pekerjaan yang lain.

19. ayat ini bermakna….

a. Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu adan kemudahan

b. Tidakkah kami telah melapangkan dadamu

c. Dan kami buang darimu dosamu

d. Dan kami angkat ucapanmu

e. Apabila selesai suatu pekerjaan maka beralihlah ke pekerjaan yang lain.

B. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat dan benar!

1. Sebutkan contoh-contoh sikap rela berkorban!
2. Jelaskan tugas manusia di bumi!
3. Sebutkan cara-cara bersyukur kepada Allah SWT!
4. Tuliskan suatu dalil yang menjelaskan tentang kewajiban untuk menuntut ilmu!
5. sebutkan cara-cara untuk membiasakan diri untuk bersabar!
6. Apakah yang dimaksud Husnuzzan?
7. Jelaskanlah cara husnuzzan dengan Allah swt!
8. Artikanlah ayat.dibawah ini!

IMAN KEPADA ALLAH SWT
18 Oktober 2009 pukul 11:56 pm | Ditulis dalam Modul PAI SMK | Tinggalkan sebuah Komentar

Materi Pelajaran PAI SMK Kelas X Semester 1

Iman menurut etimologi berarti percaya, sedangkan menurut terminologi, berarti membenarkan secara dengan hati, lalu diungkapkan dengan kata-kata, dan diapikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Iman kepada Allah SWT berarti meyakininya dengan hati lalu diucapkan dengan lisan, kemudian diaplikasikan dalam kehiduipan sehari-hari.

Iman kepada Allah SWT adalah rukun iman yang pertama. Hal ini menunjukkan bhawa iman kepada Allah SWT merupakan hal yang paling pokok dan mendasar bagi keimanan dan seluruh ajaran islam. Unutk mempertebal keimanan maka seseorang harus mengenal sifat-sifat Allah SWT beserta Asmanya (Asmaul Husna).

A. Sifat-Sifat Allah SWT

1. Allah Bersifat Wujud (Ada), Mustahil Bersifat ‘Adam (Tidak Ada)

Allah SWT bersifat wujud atau ada, lawannya tidak ada (adam). Adanya Allah SWT dapat dibuktikan dengan akal yaitu dengan melihat dan memikirkan semua yang ada atau yang terjadi di alam semesta ini. Apabila diperhatikan kejadian dan kerja dari organ-oragn tubuh manusia, pasti terpikir bahwa semua itu pasti ada yang mengatur dan menjadikannya. Demikian juga halnya dengan alam ini. Tidak dapat diterima akal bila alam ini terjadi dengan sendirinya. Jika sebelumnya alam ini belum ada, kemudian menjadikan dirinya sendiri, maka akal yang sehat tidak dapat menerima apabila sesuatu yang belum ada dapat membuat dirinya menjadi ada. Sulit diterima akal, apabila benda tersebut terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan atau menjadikan. Begitu pula keteraturan alam, adanya pergeseran siang dan malam secara teratur, peredaran matahari pada sumbunya, peredaran planet-planet, adanya hukum-hukum alam yang semuanya menunjukkan adanya pengaturan, dan yang mengatur iru adalah Allah SWT.

Dalil tentang sifat Allah ini terdapat dalam Al Qur’an Surat Al An’am : 102 yang berbunyi:(lihat Qur’an online di google)

Artinya: (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu. (QS Al An’am : 102)

Menurut fitrah dan pertimbangan akal sehat tidak mungkin Allah SWT tidak ada, karena ada yang dibuat yaitu makhluk. Pendapat bahwa Tuhan itu tidak ada dan memandang ala mini terjdai secara kebetulan adalah irasional (tidak masuk akal).

Manfaat mempelajarinya: agar manusia mau mengabdikan diri (menyembah) kepada yang wujud itu yaitu Allah SWT

2. Allah Bersifat Qidam (Dahulu), Mustahil bersifat Huduts (Didahului)

Allah SWT bersifat qidam atau dahulu, lawannya bersifat baru ata ada yang mendahului. Hal ini dapat dilihat dengan contoh yang sederhana, yaitu rumah. Rumah dibuat tukang (manusia). Adanya rumah itu setelah adanya manusia (tukang). Dengan kata lain tukang lebih dulu ada dibanding rumah yang dibuatnya. Begitu pula Allah SWT yang meciptakan alam semesta beserta isinya telah lebih dahulu ada dibandingkan alam yang diciptakannya. Namun demikian, adanya Allah SWT tiada bermula dan tiada berakhir.

Allah SWT adalah Maha Azali, yaitu sudah ada sebelum adanya sesuatu apapun selain dia sendiri, dan akan terus abadi, sebagaimana firmannya : lihat Qur’an online di google)

Artinya : “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin]; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al Hadid : 3)

Memperhatikan tanda – tanda kekuasaan Allah, maka akal sehat manusia pasti menolak bahwa yang diciptakan lebih dahulu ada dari yang menciptakan. Pelukis lebih dulu ada dari pelukisnya. Maka mustahil Allah bersifat Huduts.

Manfaat mempelajarinya: agar manusia yakin bahwa Allah SWT telah ada dan sempurna sejak awal.

3. Allah Bersifat Baqa’ (Kekal) Mustahil Fana (Binasa)

Allah SWT adalah Khaliq (pencipta) dan alam adalah Makhluk (yang diciptakan). Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu mempunyai sifat Baqa’, yaitu kekal selama-lamanya. Semua yang ada di alam ini dapat rusak, binasa, mati dan musnah. Tetapi Allah SWT tetap, tanpa mengalami perubahan, sebagaimana firmannya : :(lihat Qur’an online di google)

Artinya : “(26). Semua yang ada di bumi itu akan binasa. (27). Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS Ar Rahman : 26-27)

Allah SWT tidak ada yang menciptakan, maka mustahil bagi Allah SWT memiliki sifat seperti makhluk. Seluruh makhluk di alam semesta ini ada awalnya dan pasti akan berakhir, maka semuanya akan hancur.

Manfaat mempelajarinya: agar manusia yakin bahwasanya Allah SWT bersifat kekal, sementara manusia pasti binasa dan manusia harus menyiapkan bekal untuk kehidupan sesudah binasa.

4. Allah Besifat Mukhallafat lil Hawaditsi (Berbeda dari Semua Makhluk), Mustahil Mumatsalatuhu lil Hawaditsi (Ada yang Menyamainya)

Allah SWT berbeda sifatnya dengan semua makhluk. Hal ini mudah dipahami karena Allah SWT adalah pencipta semesta alam, sehingga mustahil pencipta sama dengan yang diciptakannya. Firman Allah SWT : :(lihat Qur’an online di google)

Artinya: “…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS As Syuara : 11)

Kita wajib percaya bahwa Allah SWT berbeda dengan makhluknya. Meja, kursi, papan tulis yang dibuat tentu tidak akan sama bentuk dan rupanya dengan yang membuat. Begitu pula Allah SWT sebagai Khalik pasti berbeda dengan Makhluk.

Manfaat mempelajarinya: agar manusia yakin bahwa mauusia tidak mampu menandingi zat Allah yang pasti tidak sama dengan manusia.

5. Allah Bersifat Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri), Mustahil Qiyamuhu Bighairihi (Bergantung pada Sesuatu)

Allah SWT berdiri sendiri, lawannya adalah dengan batuan atau bergantung pada yang lain. Allah SWT adalah pencipta alam dengan segala isinya. Ini berarti dalam penciptaan alam tidak ada yang membantu dan dia tidak membutuhkan bantuan sebab Allah Maha Kuasa dan Maha Perkasa, sedangkan sesutau selain Allah SWT adalah makhluk yang lemah dan mustahil menolong penciptanya. Firman Allah SWT : :(lihat Qur’an online di google)

Artinya : “… Allah tidak merasa beratb memelihara keduanya dan dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS Al Baqarah : 255).

Allah SWT tidak memerlukan bantuan dari yang lain, dia berkuasa sendiri, karena dia maha Sempurna. Jika Allah SWT memerlukan bantuan dari yang lain berarti Allah bersifat Ihtiyaju li ghairihi atau Qiyamuhu bi ghirihi. Itu tidak mungkin bagi Allah SWT, karena menunjukkan kelemahan dan kekurangan. Yang mempunyai sifat kelemahan hanya makhluk, Mustahil dimiliki oleh Allah SWT.

Manfaat mempelajarinya: agar manusia tidak sombong, karena manusia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, antara manusia harus saling tolong – menolong karena yang berdiri sendir adalah Allah SWT.

6. Allah Bersifat Wahdaniyah (Esa), Mustahil ‘Adadun (Berbilang)

Agama Islam mengajarkan bahwa Allah SWT itu Esa, lawannya berbilang, yaitu lebih dari satu, baik dzatnya, sifatnya, maupun perbuatannya. Esa dalam dzatnya ialah bahwa dzat atau substansi Allah SWT tidak tersusun dari unsur atau elemen dan tidak dapat dibagi atau diukur.

Allah SWT adalah zat yang mutlak, tidak dapat disamakan dengan apapun, tidak mungkin dilihat dengan mata, tidak dapat diraba dengan tangan, tidak dapat diketahui dengan panca indera manusia, juga tidak dapat diukur dengan alat apapun, karena dia sangat berbeda dengan apa pun yang ada.

Allah SWT pun esa dalam perbuatannya, maksudnya tidak ada sesuatu yang mampu berbuat seperti perbuatan khalik. Dia yang mewujudkan semua rencana dan perbuatannya tanpa dipengaruhi pihak lain.

Jika kita perhatikan alam semesta dan segala isinya, nampak keteraturan antara satu dengan yang lain, itu adalah bukti bahwa alam ini berjalan atas “sunatullah”, tidak nampak sedikitpun benturan. Jika demikian, maka yang mengatur hanya zat yang tunggal, yaitu Allah. Kerusakan akan terjadi bila adanya tuhan lebih dari satu. Firman Allah SWt dalam QS Al Anbiya : 22, yang berbunyi: :( lihat Qur’an online di google)

Artinya: Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (QS Al Anbiya : 22)

Keesaan Allah SWT wajib diyakini oleh setiap mukmin secara utuh dan sempurna. Namun jangan sampai memikirkan zat atau bentuk Allah, tetapi yang harus dipirkan hanyalah ciptaannya saja.

Manfaat mempelajarinya: agar manusia yakin akan keesaan Allah dan hanya taat kepada Allah yang Esa itu.

7. Allah Bersifat Qudrat (Maha Kuasa), Mustahil ‘Ajzun

Allah bersifat Maha Kuasa, lawannya lemah, terbatas, dan tidak berkuasa. Allah Maha Kuasa artinya hanya Allah SWT saja yang berkuasa, sedangkan makhluk selain Allah SWT tidak mempunyai kekuasaan apa-apa. Kekuasaan Allah SWT tidak hanya dalam membuat dan menghidupkan saja, tetapi juga berkuasa meniadakan atau mematikan sesuai dengan kehendaknya sendiri. Firman Allah SWT : :(lihat Qur’an online di google)

Artinya : “… Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran : 26)

Manfaat mempelajarinya: agar manusia tidak berlaku sewenang – wenang bila memiliki kekuasaan, karena kekuasaan yang dimiliki oleh manusia sifatnya hanya sementara dan terbatas.

8. Allah Bersifat Iradat (Berkehendak), Mustahil Karahah (Terpaksa)

Sifat berkehendak, lawannya adalah terpaksa. Artinya bahwa Allah SWT menjadikan sesuatu sesuai dengan rencana dan kehendaknya.

Sifat qudrat sangat erat kaitannya dengan sifat iradat. Segala sesuatu yang telah dan akan dijadikan Allah SWT adalah karena kehendak (iradat) Allah sendiri.

Jika Allah SWT menghendaki sesuatu. Ia cukup hanya berfirman maka jadilah sesuatu yang dikehendakinya itu. Firman Allah SWT : :( lihat Qur’an online di google)

Artinya : “Sesungguhnyanya perintahnya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya “Jadilah” maka terjadilah ia.” (QS Yaasiin ; 82)

Manfaat mempelajarinya: agar manusia tidak lekas putus asa bila kehendaknya tidak tercapai atau menemui kegagalan, sebab kewajiban manusia hanyalah berusaha dan yang menentukan adalah Allah SWT.

9. Allah Bersifat Ilmu (Maha Mengetahui), Mustahil Jahlun (Tidak Tahu atau Bodoh)

Allah SWT bersifat Maha Mengetahui, lawannya tidak tahu. Ilmu Allah SWT tidak ada batasnya karena Allah SWT yang menjadikan alam semesta ini. Allah SWT mengetahui segala sesuatu, baik nyata maupun tidak nyata. Allah Maha Berilmu dan merupakan sumber segala ilmu, sedangkan manusia hanya diberikan sedikit ilmu oleh Allah SWT, sebagaimana firmannya : :(lihat Qur’an online di google)

Artinya : “…Tidakkah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS Al Isra : 85)

Ilmu artinya mengetahui, maksudnya Allah SWT memiliki sifat Maha Mengetahui terhadap sesuatu. Sifat Allah itu sebagai bukti bahwa Allah tidak pernah didahului oleh ketidak tahuan, begitu pula ilmu Allah itu sangat luas dan tidak dibatasi oleh kelemahan dan kekurangan.

Allah SWT mengetahui yang nampak dan tersembunyi, mengetahui yang sudah terjadi dan akan terjadi yng ada di langit dan di bumi, bahkan yang tersembunyi di dalam diri setiap manusia. Firman Allah SWT: lihat Qur’an online di google)

Artinya: Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Al Hujurat : 18

Allah mustahil bersifat Jahlun (bodoh), karena bodoh merupakan sifat kekurangan, sedangkan Allah SWT Maha Sempurna.

Manfaat mempelajarinya: agar manusia tidak sombong bila memiliki ilmu pengetahuan sebab ilmu Alla teramat luas dan ilmu manusia terbatas.

10. Allah Bersifat Hayat(Hidup), Mustahil Mautun (Mati)

Allah SWT bersifat Hayat atau hidup, lawannya mati atau mautun. Kehidupan Allah SWT sempurna dalam arti dia hidup untuk selama-lamanya (hidup sempurna), tidak seperti hidupnya manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan serta benda lain yang mengalami kebinasan. Allah SWT kekal. Kalau Allah SWT mati atau tidak hidup tentu tidak akan ada makhluk hidup. Hal ini dapat disimak dalam Al Qur’an. Firman Allah SWT. :(lihat Qur’an online di google)

Artinya : “Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (QS Al Furqan : 58)

Sesuai dengan kekuasaannya, Allah memiliki sifat Hayat yang mutlak, hidup dengan sendirinya dan sifatnya kekal. Hidup tidak pernah berakhir dengan kematian, karena mati hanyalah milik makhluk. Dengan demikian wajib bagi Allah SWT bersifat hayat, dan mustahil bagiNya besifat maut.

Manfaat mempelajarinya: agar manusia hendaknya bebuat baik selama hidup di dunia yang hanya sekali ini, sebab yang hidup kekal hanya Allah sedang manusia pasti mengalami kematian.

11. Allah Bersifat Sama’ (Mendengar), Mustahil ‘Asham (Tuli)

Allah SWT bersifat mendengar (sama’), lawannya tuli. Mendengarnya Allah SWT tidak sama dengan mendengarnya manusia. Pendengaran manusia dapat mengalami gangguan, seperti menjadi tuli dan tidak dapat mendengar. Ketajaman pendengaran manusia terbatas dan tidak sama antara satu dengan yang lainnya.

Allah Maha Mendengar, tidak ada suara yang tidak didengar oleh Allah SWT. Tidak ada kesulitan bagi allam SWT mendengar semua suara walaupun suara itu sangat lemah. Bahkan suara hati manusia akan didengar oleh Allah SWT. Orang yang beriman kepada Allah SWT niscaya akan merasa senang dan tenang karena tidak khawatir bahwa doa atau permohonannya tidak akan didengar oleh Allah SWT. Firman Allah SWT ; :( lihat Qur’an online di google)

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.” (QS Al Baqarah : 127)

Setiap muslim di manapun berada, siang atau malam, di tempat ramai atau tersembunyi, senantiada didengar oleh Allah SWT. Sikap ini harus ditanamkan dalam perilaku sehari – hari. Tidak ada kesulitan bagi Allah mendengar sesuatu dan semua suara walaupun suara itu sangat lemah, bahkan suara hati manusia akan didengar oleh Allah SWT.

Manfaat mempelajarinya: agar manusia dalam berbicara harus berhati – hati, jangan berkata kotor, porno, atau cabul, sebab dimana manusia berbicara Allah pasti mendengar.

12. Allah Bersifat Bashar (Melihat), Mustahil A’ma (Buta)

Allah bersifat Maha Melihat, lawannya buta. Melihatnya Allah SWT adalah sempurna terhadap apa yang ada di alam ini. Firman Allah SWT : :(lihat Qur’an online di google)

Artinya : “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Al hujurat : 18)

Bashar artinya melihat, maksudya Allah maha meliaht kepada seluruh makhluknya. Penglihatan Allah sangat luas tidak dibatasi oleh suatu apapun. Allah maha melihat terhadap yang nampak maupun yang tersembunyi.

Manfaat mempelajarinya: agar manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini hati – hati, jangan berbuat maksiat sebab Allah pasti melihat meskipun di mana saja kita berada.

13. Allah Bersifat Kalam (Berfirman), Mustahil Abkam (Bisu)

Allah SWT bersifat kalam, lawannya bisu. Kalam Allah SWT adalah sempurna. Terbukti dalam firmannya yang termaktub dalam Al Qur’an yang sempurna. Karena itu tidak ada bahasa manusia yang dapat menggantikan bahasa (kalam) Allah SWT, karena kalam Allah SWT itu bersih dari segala kata manusia.

B. Asmaul Husna

Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik yang merupakan sifat-sifat Allah SWT. Nama-nama itu banyak kita jumpai dalam Al Qur’an. Diantara nama-nama Allah SWT yang juga sekaligus merupakan sifat-sifat Allah SWT, ialah :

1. Al ‘Adlu (Adil)

Allah SWT Maha Adil terhadap makhluknya, terbukti dalam segala hal, baik yang meyangkut urusan keduniaan maupun urusan akhirat. Misalnya, dalam ibadah Allah SWT tidak membeda-bedakan si kaya dan si miskin, antara pejabat dengan staff dan sebagainnya. Kadar yang menjadi ukuran di sisi Allah SWT ialah ketakwaan hamba-hambanya. Allah SWT berfirman : :( lihat Qur’an online di google)

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An Nahl : 90)

2. Al Ghaffar (Pengampun)

Al Ghaffar merupkan sifat Allah yang artinya Pengampun. Maghfirah (ampunan) Allah SWT selalu dilimpahkan kepada makhluknya yang mau mengakui kesalahan dan bertaubat. Sifat pengampun Allah SWT ini dapat dilihat dalam firmannya : :(lihat Qur’an online di google)

Artinya : “Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Shaad : 66)

3. Al Hakim (Bijaksana)

Di antara sifat Allah SWT adalah Al Hakim, artinya bijaksana. Kebijaksanaan Allah SWT tidak terbatas kepada bentuk ciptaannya saja, tetapi mencakup segala hal. Sebagai contoh, segala yang diperintahkan Allah SWT, baik yang mengandung ibadah maupun muamalah, selalu mengandung hikmah dan bila dikerjakan akan mendapat pahala. Sebaliknya, sesuatu yang dilarang ada hikmahnya dan bila di tinggalkan akan mendapat pahala. Sifat bijaksan ini dapat diperhatikan pada ayat berikut ini: :(lihat Qur’an online di google)

Artinya: “Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ali Imran : 6)

4. Al Malik (Raja)

Al Malik adalah sifat Allah SWT yang berarti raja. Allah SWT merajai segala apa yang ada di alam ini. Sebagai raja, Dia memiliki sifat kekuasaan dan kesempurnaan, tidak seperti raja di dunia ini yang banyak kekurangan dan kelemahan. Kalau Allah SWT sudah memutuskan sesuatu tak ada satupun yang dapat menolaknya dan kalau Allah SWT melarang sesuatu tidak ada satupun yang dapat mencegahnya. Allah SWT berfirman : :(lihat Qur’an online di google)

Artinya: “Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS Al Mukminuun : 116)

5. Al Hasib (Pembuat Perhitungan)

Al Hasib adalah sifat Allah SWT yang maksudnya Pembuat Perhitungan. Segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT tentunya sudah diperhitungkan dengan cermat dan tepat. Balasan yang berlipat ganda akan diberikan Allah SWT kepada orang-orang yang bersyukur dan berbuat baik. Perhitungan Allah SWT selalu tepat dalam memberi pahala kepada orang yang bebruat kebajikan dan siksa kepada orang yang ingkar kepadanya. Oleh karena itu, sebelum melakukan tindakan, kita harus memperhiutngkan baik buruknya secara cermat, sebab Allah SWT akan menghitung semua amal kita di dunia ini. Allah SWT berfirman: :(lihat Qur’an online di google)

Artinya: “…Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas segala sesuatu.” (QS An Nisa : 86)

Dengan memahami dan menghayati sifat-sifat dan asma Allah SWT diharapkan akan tumbuh dalam diri manusia kesadaran akan keagungan, kebesaran dan ke Maha Pengasihan Allah SWT terhadap sesamam makhluknya. Dengan demikian, pada akhirnya dapat melahirkan keimanan, sikap pengabdian, rendah hati, mengasihi sesama dan berhati lembut.

C. Fungsi Iman Kepada Allah SWT

Fungsi iman dalam kehidupan manusia adalah sebagai pegangan hidup. Orang yang beriman tidak mudah putus asa dan ia akan memiliki akhlak yang mulia karena berpegang kepada petunjuk Allah SWT yang selalu menyuruh berbuat baik.

Fungsi iman kepada Allah SWT akan melahirkan sikap dan kepribadian seperti berikut ini.

1. Menyadari kelemahan dirinya dihadapan Allah Yang Maha Besar sehingga ia tidak mau bersikap dan berlaku sombong atau takabur serta menghina orang lain
2. Menyadari bahwa segala yang dinimatinya berasal dari Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sikap menyebabkan ia akan menjadi orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Ia memanfaatkan segala nikmat Allah SWT sesuai dengan petunjuk dan kehendak Nya
3. Menyadari bahwa dirinya pasti akan mati dan dimintai pertanggungjawaban tentang segala amal perbuatan yang dilakukan. Hal ini menyebabkan ia senantiasa berhati-hati dalam menempuh liku-liku kehidupan di dunia yang fana ini.
4. Merasa bahwa segala tindakannya selalu dilihat oleh Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat. Ia akan berusaha meninggalkan perbuatan yang buruk karena dalam dirinya sudah tertanam rasa malu berbuat salah. Ia menyadari bahwa sekalipun tidak ada orang yang melihatnya namun Allah Maha Melihat. Dalam salah satu riwayat pernah dikisahkan, pada suatu hari Khalifah Umar bin Khattab menjumpai seorang anak pengembala kambing. Lalu Khalifah meminta kepada gembala itu agar mau menjual seekor kambing kepadanya, berapa saja harganya. Namun anak itu berkata: “Kambing ini bukan milikku melainkan milik majikanku”. Lalu Khalifah Umar berkata lagi: “Bukankah majikanmu tidak ada disini?” Jawab anak gemabala tersebut,” Memang benar majikanku tidak disini dan ia tidak mengetahuinya, tetapi Allah Maha Mengetahui” mendengar jawaban anak itu, Umar tertegun karena merasa kagum atas kualitas keimanan anak itu, yakni Allah SWT Maha Melihat dan selalu memperhatikan dirinya, sehingga ia tidak berani berbuat keburukan, walaupun tidak ada orang lain yang melihatnya.

Sadar dan segera bertaubat apabila pada suatu ketika karena kekhilafan ia berbuat dosa. Ia akan segera memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahat yang dilakukannya, sebagai mana diterangkan dalam Al Qur’an: lihat Qur’an online di google)

Artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS An Nisa :135)

Fungsi iman kepada Allah SWT akan menumbuhkan sikap akhlak mulia pada diri seseorang. Ia akan selalu berkata benar, jujur, tidak sombong dan merasa dirinya lemah dihadapan Allah SWT serta tidak berani melanggar larangannya karena ia mempunyai iman yang kokoh. Oleh karena itu, iman memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, yakni sebagai alat yang paling ampuh untuk membentengi diri dari segala pengaruh dan bujukan yang menyesatkan. Iman juga sebagai pendorong seseorang untuk melakukan segala amal shaleh.

LATIHAN

A. Pilih salah satu jawaban yang tepat dari pernyataan di bawah ini!

1. Rasulullah SAW bersabda, “berpikirlah kamu tetang semua makhluk Allah tetapi janganlah kamu memikirkan ….”

1. kekuasaan Allah
2. ciptaan Allah
3. rahmannya Allah
4. dzat Allah
5. rahimnya Allah

2. Allah SWT sebagai pencipta alam semesta beserta isinya secara logika sudah tentu wajib bersifat …

1. sama’
2. bashar
3. qiyamuhu binafsihi
4. wahdaniyah
5. qidam

3. Dalil naqli bahwa Allah itu wajib bersifat wujud antara lain terdapat dalam Al Qur’an surat Al An’am ayat …

1. 99
2. 100
3. 101
4. 102
5. 103

4. Kuasanya Allah itu dengan memperhatikan tumbuhan “murbei”, hasil pengamatan kekuasaan Allah dari imam …

1. Ahmad
2. Hambali
3. Syafi’i
4. Maliki
5. Hanafi

5. Perhatikan pernyataan-pernyataan berkut!

1. Tidak ada Tuhan selain Allah
2. Allah SWT pencipta segala sesuatu
3. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
4. Perintah beribadah hanya kepada Allah
5. Allah SWT pemelihara segala sesuatu

6. Yang merupakan maksud kandungan fiman Allah SWT:

ذ لِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وً هُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلَ

Adalah …

1. 1, 2, 3
2. 2, 3, 4
3. 3, 4, 5
4. 1, 2, 4, 5
5. 1, 2, 3, 4, 5

7. Yang termasuk sifat salbiyah bagi Allah SWT adalah…

1. wadaniyah
2. iradah
3. sama’
4. ilmu
5. kalam

8. Keyakinan bahwa Allah SWT itu Al Hasib (Maha Menjamin) hendaknya mendorong seorang mukmin untuk …

1. berserah diri pada nasib
2. tidak berputus asa dan terus berusaha
3. bersikap sederhana dalam kehidupan
4. berbicara yang perlu-perlu saja
5. selalu bermusyawarah dalam setiap masalah

9. Allah wajib bersifat qidam dan mustahil bersifat …

1. baqa’
2. fana
3. hudus
4. adam
5. wujud

10. قَلِيْلاً Arti dari potongan ayat tersebut adalah…

1. panjang
2. pendek
3. sedikit
4. banyak
5. tinggi

11. Allah mustahil bersifat ‘ajzu dan wajib bersifat …

1. wahdaniyah
2. baqa’
3. qudrah
4. iradah
5. fana

12. Seorang laki-laki yang percaya/ beriman kepada Allah swt disebut ….

1. muslim
2. muslimat
3. mukmin
4. mukminat
5. muslihin

13. Tandanya seorang benar imannya kepada Allah swt…

1. giat menuntut ilmu
2. tunduk dan patuh kepadanya
3. giat bekerja
4. meyakini akan kebesarannya
5. meyakini semua ciptaannya

14. Beriman kepada Allah swt, dapat diartikan mengakui adanya Allah swt dan semua sifat-sifat….

a. kekuasaan-Nya

b. kesempurnaannya

c. kebaesarannya

d. keadilannya

e. kehalimannya

15. Sifat Allah yang wajib diyakini oleh setiap mukmin sebanyak….

a. 11 sifat

b. 12 sifat

c. 13 sifat

d. 14 sifat

e. 15 sifat

16. Seorang selalu malu saat akan mengerjakan perbuatan maksiat, karena ia yakin bahwa perbuatannya itu dilihat Allah, Allah bersifat….

a. baqa

b. sama’

c. bashar

d. qudrat

e. iradat

17. Sifat yang mustahil bagi Allah swt, ialah yang …. bagi Allah swt.

a. harus ada

b. tidak mungkin

c. boleh ada

d. tidak boleh tidak

e. mungkin ada

18. Alam semesta yang indah tertata rapi merupakan dalil aqli bahwa ….

a. Allah swt ada

b. Allah swt kekal abadi

c. Allah swt mendengar

d. Allah swt melihat

e. Allah swt mengetahui

19. Allah swt Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan diterangkan dalam Al Qur an….

a. surat Al Asr

b. surat Al Kautsar

c. surat Al Ikhlas

d. surat Al Mulk

e. surat Al Hasyar

20. Allah selalu memperhatikan setiap perbuatan manusia yang baik dan yang buruk karena Allah swt bersifat….

a. sama’

b. bashar

c. iradat

d. bashar

e. kalam

B. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat dan benar!

1. Sebutkan tiga sifat wajib bagi Allah SWT!

2. Sebutkan tiga sifat mustahil bagi Allah SWT!

3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “asmaul husna”!

4. Jelaskan fungsi iman kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari!

5. Ada berapakah asmaul husna itu? Coba kamu sebutkan sebanyak-banyaknya!

6. Tunjukkan dalil Aqli tentang wujud Allah SWT!

7. Apa yang dimaksud dengan iman? Jelaskan!

8. Apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allah SWT?

9. Apa saja yang menjadi bukti bahwa Allah maha kuasa? Coba kamu tuliskan!

10. Pantaskah orang yang berilmu tinggi brsikap sombong? Apa alasannya?
Manusia Sebagai Khalifah
18 Oktober 2009 pukul 11:04 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Materi Pelajaran SMK Kls X Semester 1

Surat Al Baqarah : 30

Bacalah ayat dibawah ini dengan tartil, fasih, benar dan suara yang indah! Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”.” (QS Al Baqarah : 30)

a. Kandungan ayat

Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi kalifah di muka bumi tersebut. Yang dimaksud dengan khalifah ialah bahwa manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan itu semuanya maka sunatullah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik oleh manusia tersebut, terutama manusia yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SWT.

Kesimpulan kandungan Surat Al Baqarah : 30, diantaranya:

1. Allah memberitahu kepada malaikat bahwa Allah akan menciptakan khalifah (wakil Allah) di bumi

1. Allah memilih manusia menjadi khalifah di muka bumi
2. malaikat menyangsikan kemampuan manusia dalam mengemban tugas sebagai manusia. Menurut pandangan malaikat, manusia suka membuat kerusakan dan menumpahkan darah
3. Malaikat beranggapan bahwa yang pantas menjadi khalifah di bumi adalah dirinya. Malaikat merasa selalu bertasbih, bertauhid dan menyucikan Allah
4. Allah lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat

2. Surat Al Mukminun : 12-14

Bacalah Surat Al Mukminun ayat 12-14 berikut dengan fasih dan benar! Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya: “12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS Al Mukminun : 12-14)

a. Kandungan ayat

Dalam surat Al Mukminun ayat 12-14 Allah SWT menerangkan tentang proses penciptaan manusia. Sebelum para ahli dalam bidang kedokteran modern mengetahui proses asal usul kejadian penciptaan manusia dalam rahim ibunya, Allah SWT sudah terlebih dahulu mejelaskan perihal kejadian tersebut dalam Al Qur’an seperti dalam surat Al Mukminun ayat 12-14, dan diperkuat oleh ayat lainnya diantaranya Surat Al Hasyr ayat 24 yang berbunyi: Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya : Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS Al Hasyr : 24)

Pada surat Al Mukminun ayat 12 -14 Allah SWT menjelaskan bahwa proses penciptaan manusia dalam rahim ibunya terbagi menjadi 3 fase yaitu:

1. Fase air mani
2. Fase segumpal darah
3. Fase segumpal daging

Yang masing-masing fasenya memakan waktu 40 hari, hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh bukhari:

Artinya :

Dari Abdullah bin Mas’ud ra.,ia berkata : Rasululla saw bercerita kepada kami, beliaulah yang benar dan dibenarkan : “Sesungguhnva penciptaan perseoranganmu terkumpul dalam perut ibunva empat puluh hari dan empat puluh malam atau empat puluh malam, kemudian menjadi segumpal darah, semisal itu (40 hari = pen) kemudian menjadi segumpal daging, semisal itu (40 hari = pen), kemudian Allah mengutus Malaikat, kemudian dipermaklumkan dengan empat kata, kemudian malaikat mencari rizkinya, ajalnya (batas hidupnya), amalnya serta celaka dan bahagianya kemudian Malaikat meniupkan ruh padanya. Sesungguhnya salah seorang di antaramu niscaya beramal dengan amal ahli (penghuni) sorga, sehingga jarak antara sorga dengan dia hanya satu hasta, namun catatan mendahuluinya, maka ia beramal dengan penghuni neraka, maka ia masuk neraka. Dan sesungguhnya salah seorang diantaramu, beramal dengan amal ahli neraka, sehingga jarak antara neraka dengan dia hanya satu hasta, namun catatan mendahuinya, maka ia beramal dengan amal penghuni sorga, maka ia masuk sorga. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Sedangkan dalam surat Al Hasyr Allah menjelaskan bahwa janin sebelum menjadi manusia sempurna juga mengalami tiga fase, yaitu:

1. Taswir, yaitu digambarkan dengan bentuk garis-garis, waktunya setelah 42 hari
2. Al Khalq, yaitu dibuat bagian-bagian tubuhnya
3. Al Baru’, yaitu penyempurnaan terhadap bentuk janin

Kesimpulan kandungan surat Al Mukminun ayat 12-14 ini antara lain:

1. Menjelaskan tentang proses kejadian manusia
2. Allah memberi kesempatan hidup di dunia kepada manusia
3. Usia manusia ditentukan oleh Allah SWT
4. Manusia diperintahkan untuk memikirkan proses kejadiannya agar tidak sombong kepada Allah dan sesama manusia

3. Surat Adz Dzariyat ayat 56

Bacalah surat Az Zariyat berikut ini dengan fasih dan benar! Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepadaku.” (QS Adz Zariyat : 56)

a. Kandungan ayat

Surat Adz dzariyat ayat 56 mengandung makna bahwa semua makhluk Allah, termasuk jin dan manusia diciptakan oleh Allah SWT agar mereka mau mengabdikan diri, taat, tunduk, serta menyembah hanya kepada Allah SWT. Jadi selain fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi (fungsi horizontal), manusia juga mempunya fungsi sebagai hamba yaitu menyembah penciptanya (fungsi vertikal), dalam hal ini adalah menyembah Allah karena sesungguhnya Allah lah yang menciptakan semua alam semesta ini.

Seperti diutarakan pada surat Al Mukminun ayat 12-14 bahwa Allah SWT yang menciptakan manusia dari saripati tanah yang terkandung dalam tetesan air yang hina, yaitu air mani, oleh karenanya merupakan suatu keharusan bagi manusia untuk menyembah penciptanya, yang telah menjadikan manusia sebagai makhluk mulia diantara makhluk lainnya.

4. Surat Al Hajj ayat 5

Bacalah surat Al Hajj ayat 5 berikut ini dengan fasih, tartil, dan benar! Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. “ (QS Al Hajj : 5)

B. PROSES KEJADIAN MANUSIA

Manusia dalam pandangan Islam tediri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Jasmani manusia bersifat materi yang berasal dari unsur-unsur sari pati tanah. Sedangkan roh manusia merupakan substansi immateri, yang keberadaannya dia alam baqa nanti merupakan rahasia Allah SWT. Proses kejadian manusia telah dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim dan Hadits Rasulullah SAW.

Tentang proses kejadian manusia, Allah SWT telah berfirman dalam Al Qur’an surat Al Mukminun ayat 12 – 14 Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudain airmani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS Al Mukminun : 12-14).

Tentang proses kejadian manusia ini juga dapat dilihat dalam pada QS As Sajadah ayat 7 – 9 yang berbunyi: Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya : 7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. 8. kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. 9. kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As Sajadah : 7 – 9)

Dalam hadits Rasulullah SAW tentang kejadian manusia, beliau bersabda yang artinya: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya 40 hari sebagai nutfah, kemudain sebagai alaqah seperti itu pula (40 hari), lalu sebagai mudgah seperti itu, kemudian diutus malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh kedalam tubuhnya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari r.a dan muslim)

Ketika masih berbentuk janin sampai umur empat bulan, embrio manusia belum mempunyai ruh, karena baru ditiupkan ke janin itu setelah berumur 4 bulan (4X30 hari). Oleh karena itu, yang menghidupkan tubuh manusia itu bukan roh, tetapi kehidupan itu sendiri sudah ada semenjak manusia dalam bentuk nutfah. Roh yang bersifat immateri mempunyai dua daya, yaitu daya pikir yang disebut dengan akal yang berpusat diotak, serta daya rasa yang disebut kalbu yang berpusat di dada. Keduanya merupakan substansi dai roh manusia.

C. PERANAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, ada dua peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat. Pertama, memakmurkan bumi (al ‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar ri’ayah).

1. Memakmurkan Bumi

Manusia mempunyai kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT. Manusia harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata, dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu.

2. Memelihara Bumi

Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). Memelihara dari kebiasaan jahiliyah, yaitu merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat. Karena sumber daya manusia yang rusak akan sangata potensial merusak alam. Oleh karena itu, hal semacam itu perlu dihindari.

Allah menciptakan alam semesta ini tidak sia-sia. Penciptaan manusia mempunyai tujuan yang jelas, yakni dijadikan sebagai khalifah atau penguasa (pengatur) bumi. Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah agar memakmurkan kehidupan di bumi sesuai dengan petunjukNya. Petunjuk yang dimaksud adalah agama (Islam).

Mengapa Allah memerintahkan umat nabi Muhammad SAW untuk memelihara bumi dari kerusakan?, karena sesungguhnya manusia lebih banyak yang membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh sehingga manusia akan cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah terjadi pada masa nabi – nabi sebelum nabi Muhammad SAW dimana umat para nabi tersebut lebih senang berbuat kerusakan dari pada berbuat kebaikan, misalnya saja kaum bani Israil, seperti yang Allah sebutkan dalam firmannya dalam surat Al Isra ayat 4 yang berbunyi : Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya : dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar“. (QS Al Isra : 4)

Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan menjalankan fungsi sebagai khalifah dimuka bumi dengan tidak melakukan pengrusakan terhadap Alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Seperti firmannya dalam surat Al Qashash ayat 77 yang berbunyi: Teks lihat “google Al-Qur’an onlines”

Artinya: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS AL Qashash : 7)

D. TUGAS MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK

Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata menyembah sebagai terjemahan dari lafal ‘abida-ya’budu-‘ibadatun. Beribadah berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.

1. Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Qur’an maupun hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.

2. Ibadah ‘ammah (umum), yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT

Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah k=jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin. Sedankan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)

Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepadanya. Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur samapai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran Islam.

Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunayi tugas pokok di muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian yang dikehendaki oleh Allah SWT adlah bertauhid kepadanya, yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan Allah dalam segala situasi dan kondisi, baik dalam keadaan suka maupun duka.

Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada Allah dibuktikan dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Taat kepada rasul berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya. Kesiapan itu lalu ditambah dengan keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa.

LATIHAN

A. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini!

1. Isi kandungan surat Al Mukminu ayat 12-14 antara lain adalah …

1. Allah menerangkan tentang proses kejadian manusia
2. Allah menerangkan tentang proses kejadian alam semesta
3. Allah menjadikan khalifah di muka bumi
4. Allah menciptakan jin dan manusia untuk menyembah kepadanya
5. Allah memerintahkan mendirikan shalat dan menunaikan zakat

2. Bacan yang benar pada kata مِنْ نُطْفَةٍadalah …

a. min nutfatim

b. min nutfatin

c. minna nutfah

d. mim nutfatin

e. min nutfah

3. Arti dari kata لَعَلَّكُمْ تَعْقِْلُوْنَ adalah …

a. agar kamu memahami

b. agar kamu berpikir

c. agar kamu tidak sombong

d. agar kamu memohon

e. agar kamu mengetahui

4. Pada kata يُخْرِخُكُمْ طِفْلاً hukum bacaannya adalah …

a. izhar syafawi

b. izhar halqi

c. idgham mimi

d. idggham bigunnah

e. ikhfa

5. Yang dipilih Allah untuk menjadi khalifah di bumi adalah …

a. manusia dan malaikat

b. malaikat

c. manusia

d. jin dan manusia

e. jin

6. Malaikat tidak setuju kalau manusia menjadi khalifah, karena manusia …

a. selalu jujur

b. selalu berbuat kebaikan

c. suka berbuat kerusakan

d. suka memberi

e. suka menolong

7. Arti kalimat وَ يَسْفِكُ الدِّمَآءَ adalah …

a. menyucikan diri

b. berbuat kerusakan

c. berbuat kezaliman

d. menyusahkan diri

e. menumpahkan darah

8. Apabila ada huruf berharakat dhamah ( ـُ ) bertemu dengan huruf mad disebut …

a. mad tabi’i

b. izhar syafawi

c. idgham bilagunnah

d. mad lazim

e. izhar haqiqi

9. Manusia diciptakan oleh Allah dari …

a. batu

b. api

c. tanah

d. air

e. lumut

10. Usia manusia telah ditentukan oleh …

a. Allah SWT

b. Jin

c. Manusia

d. Malaikat

e. Nabi

11. Umat manusia dapat melaksanakan tugas yang mulia di muka bumi apabila semasa hidupnya bisa maningkatkan kemampuan …

a. akal budi

b. daya pikir

c. jasmani dn rohani

d. bermuamalat

e. berjihad

12. Tugas manusia adalah menjadi khalifah di muka bumi, disamping itu diberi tugas untuk memelihara dan …. bumi

a. menyirami

b. menhiasi

c. menguasai

d. melestarikan

e. menghidupkan

13. مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا artinya adalah …

a. orang yang akan berbuat kerusakan padanya

b. mereka para penghuni bumi

c. akan membuat kerusakan padanya

d. Dialah yang Maha Mengetahui

e. Maha Mulia dan Agung

14. Nun mati bertemu ta pada kalimat harus dibaca samar dengan dengung karena merupakan bacaan …

1. idgham
2. idzhar
3. ikhfa
4. qalqalah
5. iqlab

15. Dalam surat Adz Dzariyat ayat 56, Allah menciptakan jin dan manusia untuk …

1. bersabar
2. berilmu
3. beribadah
4. berprestasi
5. berkomunikasi

16. Dalam surat Al Mukminun ayat 12, yang berbunyi مِنْ طِيْنِ berisi penegasan Allah bahwa manusia diciptakan dari …

1. air
2. udara
3. gas
4. batu
5. tanah

17. Hal yang tidak termasuk ke dalam ibadah yang hukumnya fardu ‘ain adalah …

1. shalat lima waktu
2. berpuasa di bulan ramadhan
3. menunaikan ibadah haji
4. mengeluarkan zakat
5. Menyalatkan jenazah seorang muslim

18. قَلُوآ اَتَجْعَلُ Hukum bacaan pada huruf yang digarisbawahi adalah …

1. ikhfa
2. al qamariyah
3. mad jaiz munfashil
4. mad arid lis sukun
5. idgham

19. يُفْسِدُ Artinya …

1. berbuat kerusakan
2. kebaikan
3. menjadikan
4. menumpahkan darah
5. menyucikan

20. نُقَدِّ سُ Artinya …

1. menumpahkan darah
2. menjadikan
3. kebaikan
4. menyucikan
5. kerusakan

B. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan tepat dan benar!

1. Sebutkan isi kandungan surat Al Mukminun ayat 12-14!

2. Apa yang diperintahkan Allah kepada manusia!

3. Apa hukum baca pada kata وَ اِذْ قَا لَ . Jelaskan!

4. Mengapa manusia diperintahkan untuk memikirkan proses kejadian penciptaan dirinya!

5. Jelaskan tujuan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi!

6. Apa kesimpulan yang terdapat dalam surat Adz Dzariyat ayat 56?

7. Sebutkan kandungan surat Al Baqarah ayat 30!

8. Apa pengertian ibadah menurut istilah?

9. Bagaimana tanggapanmu bila melihat seorang manusia berbuat kerusakan di muka bumi ini!
Panduan Shalat Idul Fitri
17 September 2009 pukul 7:10 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

saya sajikan agar sahabat2 semakin sempurna dalam menuntaskan ibadah puasa bulan Ramadhan dan melaksanakan shalat di hari raya nan fitri.

Sejujurnya terdapat dua perasaan di hati saat melaksanakan Shalat Ied. Yang pertama adalah rasa bahagia dan bersyukur karena telah dipanjangkan umur dan dapat menyelesaikan kewajiban berpuasa satu bulan lamanya serta ditutup dengan Shalat Idul Fitri berjamaah. Selain itu, Allah SWT telah memberikan kesempatan kepada kita untuk meraih sebanyak-banyaknya pahala dan menghapus segenap dosa sehingga kembali suci. Subhanallah! Namun yang kedua adalah perasaan sedih sekaligus terharu karena bulan yang begitu penuh berkah dan maghfiroh ternyata akan segera berlalu. Tiada lagi kenikmatan tak terhingga berbuka puasa, tiada lagi puasa bersama seluruh keluarga, kumpul sahur dan bercanda saat buka, bukber bersama, suara tadarus dari masjid hingga pagi hari, kesempatan memperoleh pahala yang taimages shak terhingga dan bulan yang mensucikan segala dosa. Yang tersisa adalah rasa takut tak berjumpa lagi dengan Ramadhan…

Hanya dapat berdoa agar diterima semua ibadah yang telah dilaksanakan dan diijinkan untuk bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan tahun depan 1431H. Amin Ya Rabbal Alamin.

Mudah-mudahan artikel tentang tuntunan tata cara niat bacaan Shalat ied rukun sunnah waktu dan syarat Shalat Idul Fitri ini bermanfaat ya.

Niat Shalat Ied Idul Fitri

Niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup diucapkan didalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata karena Allah Ta’ala semata dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan Ridho Nya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah bijaksana.

Bahasa Arab:
“Ushalli sunnatal li’iidil fitri rak’ataini (imamam/makmumam) lillahita’aalaa”

Artinya dalam Bahasa Indonesia:
“Aku niat shalat idul fitri dua rakaat (imam/makmum) karena Allah Ta’ala”

Waktu dan Tata Cara Pelaksanaan Shalat Ied

Waktu shalat hari raya adalah setelah terbit matahari sampai condongnya matahari.

Tata caranya adalah sebagai berikut:

Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada prinsipnya sama dengan shalat-shalat yang lain. Namun ada sedikit perbedaan yaitu dengan ditambahnya takbir pada rakaat yang pertama 7 kali, dan pada rakaat yang kedua tambah 5 kali takbir selain takbiratul intiqal.

Bacaan setiap sesudah takbir:

Bahasa Arab:
Subhaanallaah wal hamdulillaahi wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar.

Arti dalam Bahasa Indonesia:
“Maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah itu Maha Besar”

Adapun takbir tambahan pada rakaat pertama dan kedua itu tanpa takbir ruku’, sebagaimana dijelaskan oleh ‘Aisyah dalam riwayatnya: “Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah bertakbir para (shalat) Fitri dan Adha 7 kali dan 5 kali selain 2 takbir ruku’.” [6]

Adapun bacaan surat pada 2 rakaat tersebut, semua surat yang ada boleh dan sah untuk dibaca.

Akan tetapi dahulu Nabi membaca pada rakaat yang pertama: “Sabbihisma” (Surat Al-A’la), dan pada rakaat yang kedua “Hal ataaka” (Surat Al-Ghasyiah). Pernah pula pada rakaat yang pertama Surat Qaf dam kedua Surat Al-Qamar [7]

Syarat Rukun dan Sunnatnya Shalat Idul Fitri

Sama seperti ibadah shalat yang lainnya. Hanya ditambah beberapa sunnat sebagai berikut :
- Berjamaah
- Takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakat kedua
- Mengangkat tangan setinggi bahu pada setiap takbir.
- Setelah takbir yang kedua sampai takbir yang terakhir membaca tasbih.
- Membaca surat Qaf dirakaat pertama dan surat Al Qomar di rakaat kedua. Atau surat A’la dirakat pertama dan surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua.
- Imam menyaringkan bacaannya.
- Khutbah dua kali setelah shalat sebagaimana khutbah jum’at
- Pada khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah dan pada Idul Adha tentang hukum – hukum Qurban.
- Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.
- Makan terlebih dahulu pada shalat Idul Fitri pada Shalat Idul Adha sebalikny
Halal Bihalal
15 September 2009 pukul 7:29 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

Halal bihalal adalah kata majemuk yang terdiri atas pengulangan kata halal, diimpit oleh huruf (kata penghubung) ba. Kalau kata majemuk tersebut diartikan seperti yang ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yakni acara “maaf-memaafkan pada hari lebaran”, maka dalam halal bihalal terdapat unsur silaturahim.

Walaupun demikian, pengertian kedua kata tersebut dapat menjadi sangat luas. Quraish Shihab dalam Membumikan al-Quran menjelaskan sebagai berikut:

Silaturahim adalah kata majemuk yang terambil dari kata bahasa Arab, shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata washl yang berarti “menyambung” dan “menghimpun”. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh shilat tersebut.

Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti “kasih sayang”, kemudian berkembang sehingga berarti pula “peranakan” (kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.

Salah satu bukti yang paling konkret tentang silaturahim yang berintikan rasa rahmat dan kasih sayang itu adalah pemberian yang tulus. Karena itu, kata shilat diartikan pula dengan “pemberian” atau “hadiah”.

Acuan pelaksanaan halal bi halal adalah hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, “Dua orang Muslim yang bertemu lalu keduanya saling berjabat tangan, niscaya dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum mereka berpisah.”

Rasulullah saw. mendefinisikan orang yang bersilaturahim dengan sabda beliau: “Bukanlah bersilaturahim orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahim adalah yang menyambung apa yang putus” (HR Bukhari)

Sedangkan kata halal bihalal kita tak menemukan dalam al Quran dan hadits. Istilah tersebut memang khas Indonesia, bahkan boleh jadi pengertiannya akan kabur di kalangan bukan bangsa Indonesia, walaupun yang bersangkutan faham ajaran agama dan bahasa Arab.

Paling tidak istilah halal bihalal dapat memberikan tiga arti yang berbeda atau, paling tidak, salah satunya dapat mempunyai arti yang lebih dalam daripada arti yang dikandung oleh dua pengertian lainnya. Perbedaan tersebut timbul akibat perbedaan posisi berpijak atau, boleh jadi, juga akibat perbedaan disiplin ilmu tempat seseorang memandang.

Dari segi hukum, kita dapat berkata bahwa kata halal adalah lawan kata haram. Haram adalah “sesuatu yang terlarang” atau “suatu aktivitas mukallaf yang melahirkan dosa dan dapat mengakibatkan siksa”.

Halal, yang oleh para ulama dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal, akan memberikan kesan bahwa dengan cara tersebut mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa. Dengan demikian halal bihalal menurut tinjauan hukum, menjadikan sikap kita yang tadinya haram, atau yang tadinya berdosa, menjadi halal atau tidak berdosa lagi.

Ini tentu baru tercapai apabila persyaratan lain yang ditetapkan oleh hukum terpenuhi oleh pelaku halal bihalal. Pendapat ini mungkin ditunjang oleh diadakannya halal bihalal setelah Lebaran Iedul Fithri, tidak pada Lebaran Iedul Adha. Namun, tinjauan hukum ini mempunyai kelemahan. Hal itu tampak jika lebih jauh kita telusuri makna kata halal dalam pandangan hukum.

reff:

https://soetisna.wordpress.com/

http://myqalbu.wordpress.com/2007/07/03/sebuah-renungan-mengingat-kematian/

http://www.almanhaj.or.id/content/2549/slash/0

http://mafiabond.multiply.com/journal/item/71

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: